1.
Title : Under Rain [Cho Kyuhyun]
Fanfiction Ver.
2.
Author : Jihwa Ryu
3.
Casts : Hwang Jihwa, Cho Kyuhyun
and other casts find by your self.
4.
Lenght : Ficlet
5.
Rated : PG 13
6.
Genre : AU, Fantasy and other. Up
to reader.
7.
Disclaimer : Fanfiction ini sebenarnya adalah
cerpen kedua yang author buat. Hanya saja pada awalnya ide-nya pengen buat
fanfiction tapi ada tugas bahasa indonesia jadi ya buat versi Cerpennya dulu.
Ada beberapa bagian yang diubah dari cerpen karena pengembangan dari author
sendiri. Author mau curhat dikit nih, cerpen versi asli author buat jam
setengah 4 pagi sampai jam setengah 6 pagi. Huff.... No Plagiat, No BASH.
Typo(s) anywhere.
Story....
Jihwa
Aku memandangi langit yang semakin
gelap. Hujan. Aku sudah tak sabar. Aku mengambil gelas berisi jus mangga dan
meneguk isinya sambil tersenyum tipis. Pasti akan menyenangkan. Itulah yang
terlintas dibenakku.
“Hwa-ya!!
Jihwa-ya~!!”
“Eh”
aku tersentak hingga sebagian dari jus mangga yang kuminum mengenai baju
seragamku. Tak apa, tak masalah untuk saat ini.
“Hwa-ya,
bajumu basah. Mian,..” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu aku menepuk
bahu kanan Eunmi yang kini duduk disampingku lembut. Aku memang tak suka banyak
bicara. Bukannya aku bisu. Aku hanya akan bicara saat memang penting saja. Dan
itulah aku. Oleh karena itu hanya sedikit orang yang mau berteman denganku.
“Ohya,
jadi mengerjakan tugas Ekonomi hari ini tidak ? Kata Ahjumma kamu lagi tidak enak
badan ?” Ya ampun!! Aku lupa ada janji mengerjakan tugas dengan Eunmi. Tenang!!
Atur ekspresi wajahmu sebaik mungkin Hwa-ya.
“Mian
Eunmi-ah, aku memang sedikit tidak enak badan. Mian ya, kita ngerjainnya besok
aja. Lagi pula sebenatar lagi mau hujan, nanti kamu pulangnya gimana ?” Yup!!
Sepertinya alasanku masuk akal. Akan sulit mencari bus kalau lagi hujan. Eunmi
terlihat menimbang-nimbang ucapanku sebelum mengangguk sambil tersenyum.
“ya
sudah, kita besok saja mengerjakannya. Kamu sekarang istirahat supaya kondisi
kamu membaik. Wajah kamu juga terlihat pucat” aku mengangguk dan mengikutinya
yang keluar dari kamarku. Mengantarnya sampai depan rumah.
“hati-hati
Eunmi-ah. Mian ya” ujarku didepan pintu rumah. Ia berbalik lalu mengangguk dan
meneruskan lagi langkahnya. Aku kembali masuk kekamar. Duduk ditempat tadi.
Sofa kecil yang menghadap jendela. 5 menit, 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam!!
Ah.. Akhirnya hujan juga. Sudah lebih dari 3 bulan hujan tak kunjung turun itu
berarti sudah lebih dari 3 bulan juga aku tak bertemu dengannya.
“Merindukanku
Hwa -ya ?” Aku sentak berbalik. Senyumku semakin merekah.
“Kyuhyun-ah,
sudah lama kau tak mengunjungiku, kau jahat!!” Ujarku pura-pura marah saat ia
duduk disampingku.
“Aku
sudah mengatakannya jika aku hanya bisa datang hujan turun” huh... Kenapa harus
aturanannya seperti itu sih!!
“Tapikan
awan juga mengandung air, kenapa kau-”
“Itu
uap air bukan air Hwa -ya!! Aku bangsa Elf biru, jadi hanya dapat hidup
ditempat yang terdapat air. Air itu seperti oksigen untukku” aku mengangguk.
Paham tidak paham yang jelas aku mengangguk.
“Ingin
ke lembah Auzora lagi ?” Tawarnya sambil mengulurkan tangannya. Aku mengangguk
kecil dan tanpa ragu meraih uluran tangannya. Ia memejamkan mata dan aku
mengikutinya. Aku percaya padanya. Walaupun mataku terpejam namun aku dapat
merasakan sebuah cahaya yang begitu menyilaukan menghampiriku. Atau kami lebih
tepatnya.
***
“Hwa-ya,
ini sudah sore. Aku pulang sayang. Appamu pasti tak ingin melihatmu terpuruk
seperti ini” aku menggeleng pelan saat Eomma menyentuh bahuku dan meraih
tanganku untuk membawaku pulang. Tidak! Aku tidak ingin pulang. Aku belum siap
melepas Appa.
“sayang,
sebentar lagi hujan turun. Eomma tak ingin kau sakit. Ayo pulang sayang”
akhirnya aku bangkit. Bukan untuk pulang tapi pergi kebukit dimana kami
sekeluarga biasa menghabiskan waktu bersama.
“Jihwa
Eonni!!”
“Hwa
-ya”
Aku mengacuhkan panggilan mereka.
Aku masih belum siap melepas Appa. Aku belum bisa membuatnya bangga padaku. Dan
aku butuh ketenangan sekarang. Bahkan aku berani menentang Appa hanya untuk
namja berengsek itu. Appa, Mianhada...
**
Aku duduk dibawah pohon maple yang
kering. Yah... Benar juga ini bukan musim hujan tapi kenapa langit begitu gelap
? Lama kelamaan semilir angin sejuk yang menerpa tubuhku mulai mendingin.
Tess
Tetesan air hujan pertama yang
mengenai tubuhku. Aku terpejam saat tak lama kemudian hujan begitu deras
menerpa tubuhku. Jika benar hujan itu menghapus jejak panas matahari, lalu
bisakah hujan menghapus kesedihanku juga ? Dingin. Bahkan aku sampai menggigil.
Aku mendongak saat kurasakan air hujan tak lagi menerpa wajahku.
“Jihwa,
jika kau tak kuat seharusnya jangan hujan-hujanan seperti ini. Berlindung
diabwah pohon maple yang kering itu tak ada gunanya. Lihatlah sekarang, tubuhmu
basah kuyup” sayup-sayup aku mendengar ucapan itu sebelum akhirnya mataku
tertutup.
**
“Euh...”
Aku membuka mataku yang terasa berat. Aku menoleh kesamping. Ini bukan kamarku.
“Kau
sudah bangun nona, syukurlah. Kau seperti ada masalah kau bisa cerita padaku”
aku memandang orang itu tak percaya. Aku baru saja bertemu dengannya. Kenal
saja tidak!! Eh, tapi kenapa dia-
“Aku
menemukanmu kehujanan kemarin. Karena tak tahu rumahmu aku membawamu kemari.
Makanlah buah ini dulu. Aku tak punya makanan manusia yang biasa kau makan
karena aku hanya makan buah saja” aku menatapnya bingung namun ia berjalan
santai keluar begitu saja setelah meletakan nampan berisi pear.
**
Aku berjalan perlahan sambil
mengamati setiap detail rumah ini. Ini nampak seperti puri kecil. Ornamen
didinding menunjukan gaya klasik yang kental namun rumah ini didominasi dengan
warna putih dan pernak-pernik biru. Ekor mataku menangkap lukisan seorang gadis
yang menarik perhatianku.
“Kau
sudah siap Hwa -ya” aku menoleh kebelakang. Orang ini- tahu namaku. Dari mana ?
Aku belum sempat memberitahu namaku padanya.
“Ehm,
aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Ayo!!” Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Dukk. Aku mengusap keningku karena ia
tanpa aba-aba berhenti begitu saja didepanku dan menyebabkan keningku menabrak
punggungnya. Aish... Sakit juga.
“Jika
kau tak ingin tertabrak punggungku lagi, jangan berjalan dibelakangku” cih..
Ucapannya terdengar seperti seorang raja yang memerintah saja. Aku mendesis.
Kukira ia orang yang sopan dan baik. Ternyata ia menyebalkan juga.
“Yak!!
Kenapa kau tak jalan juga ?” Aku tersadar lalu berlari kecil karena ia sudah
berada didepan pintu.
**
“Ini
indah. Kyuhyun-ssi, ini dimana ? Kenapa aku tak pernah melihat tempat seindah
ini selama ini ? Tapi- ini seperti dilukisan itu” Hey, kau tak melihatnya
secara langsung. Dilembah ini ada bunga mawar merah, mawar putih, mawar kuning
dan- mawar biru!! Mawar biru, mawar yang dianggap mitos keberadaannya itu
sekarang berada di hadapanku!!
“Ini
sapphire blue, kau- sedang tak berada di duniamu Hwa-ya” aku menoleh
menatapnya. Untuk sesaat aku mengurungkan niatku untuk memetik mawar biru itu.
“Apa
maksudmu Kyuhyun-ssi ? Dari tadi kau mengatakan aku tak menyediakan makanan
seperti manusia, ini Sapphire blue dan- kau tahu namaku tanpa aku
menyebutkannya. Kau membuatku bingung” ia memejamkan matanya menikmati semilir
angin yang berhembus. Aku mengalihkan lagi perhatianku menatap bunga yang hidup
liar dilembah ini.
“Bukankah
aku sudah mengatakannya kenapa kau tak percaya juga. Aku bukan manusia. Aku
bangsa Elf, lebih tepatnya Elf biru. Dan kau berada diduniaku sekarang”.
“hahaha...
Kyu, sudah jangan membuatku tertawa karena leluconmu itu”
“Hwa
-ya, tapi aku tak berbohong!!” Aku berhenti tertawa. “apa aku bisa kembali ke duniaku
?” Tanyaku lirih. “hahahahaha...” Sekarang tawanya yang pecah. Oh, sungguh.
Apanya yang lucu hingga ia tertawa
seperti itu. Menggelikan. Memangnya aku baru saja menjadi pelawak apa!!
“Berhenti
tertawa Kyuhyun bodoh!!” Aku menghentakkan kaki kesal lalu berjalan tak tentu
arah meninggalkannya yang masih tertawa. “Hwa -ya, kau mau kemana ? Mian. Tapi
kau lucu sekali menanyakan hal itu” aku berbalik dengan memasang wajah cemberut
dan kesal. Ia berjalan santai menghampiriku dan- ia melayang!!
“Aku
bisa terbang tapi dengan sayap karena aku tak membawanya aku hanya bisa
melayang” ia meraih tanganku dan mengenggamnya. Aku hanya mengikutinya saja
tanpa niat untuk berontak.
“Sampai!!”
Ia melepaskan genggamannya dan duduk mencelupkan kakinya ke kolam yang penuh
dengan teratai.
“Kau
tahu, kolam ini adalah kolam yang menampung air mata manusia yang menetes
karena kesedihan ataupun karena kebahagiaan. Air mata kesedihan berada didasar
kolam paling dalam hingga tumbuhan ataupun hewan tak bisa tumbuh. Air mata
kesedihan berada di dasar kolam karena massa jenis air mata itu lebih berat.
Begitu juga air matamu, air matamu hanya dapat memberatkan appa-mu yang berada
di alam lain.” aku mengikutinya duduk ditepi kolam tanpa niat mencelupkan
kakiku sepertinya.
“Aku
bingung denganmu Kyuhyun-ssi. Entahlah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana,
yang jelas aku merasa kau tahu segalanya tentang aku walau belum lama aku
mengenalmu. Tapi sebaliknya, aku tak tahu apapun tentangmu. Kau seperti tak
nyata tapi aku percaya padamu aku mengikutimu membawaku kemana saja tanpa niat
lari darimu”
“Kau
tak akan pernah lari dariku. Aku selalu ada disampingmu. Aku menatapmu saat kau
tertidur, aku melihatmu dalam kegelapan, aku menemani langkahmu dalam kesunyian
dan aku selalu menjagamu dalam diam. Aku
tahu semuanya tentangmu. Itu sudah cukup membuatku mengenalmu. Kau pernah
mendengar cerita tentang bangsa Elf ?” Aku menggeleng pelan.
“Kami
bangsa peri. Sebenarnya kita hidup disatu tempat sama tapi dunia kita berbeda.
Dan asal kau tahu kematian itu bukan akhir dari segalanya, serta air mata
adalah awal dari kesedihan dan kesengsaraan. Air mata kesedihan dikolam ini
bagaikan racun. Apabila terlalu banyak dapat membuat makhluk hidup yang hidup
disini mati.”
“Didasar
kolam sepertinya sangat indah” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia
tersenyum lalu berdiri. Ia meniup udara membentuk gelembung raksasa, aku hanya
tertegum melihatnya. “masuklah agar kau bisa bernafas diair” aku mengangguk.
Aku bangkit dan masuk ke gelembung raksasa itu. Aneh!! Tidak pecah. Ia
mendorong gelembung itu hingga terjebur kedalam kolam. Dan ia juga masuk
kedalam kolam. Benar! Ia bisa bernafas dikolam. Wa~~w.
Ikan disini beraneka ragam, sungguh
indah. Ini seperti Bunaken hanya saja tak ada terumbu karangnya. Jika aku
kembali apa aku bisa kemari lagi ? Bertemu dengan marcus-ssi lagi ? Aku harap!!
Ia orang yang mengertiku.
**
“Hati-hati,
Mian aku tak bisa mengantarmu” aku mengangguk. “ini” aku terperangah. Rangkaian
bunga yang ia bawa serba biru. Mawar biru, lily biru, tulip biru, anyerlir
biru, edelweis biru, anggrek biru, poppy biru. Tapi apa tak apa jika aku
membawanya ?
“Kau
tenang saja. Bunga ini tak akan layu dengan cepat, mungkin bisa bertahan sampai
1 bulan” tanpa ragu aku meraihnya.
“Gamsahamnida”
ujarku dan dibalas senyum simpulnya.
“Aku
janji akan sering mengunjungimu dan membawakan bunga yang segar untukmu. Kau
bisa menjadikanku sandaranmu pengganti Appa-mu Jihwa-ya” aku hanya mengangguk
dan berbalik. Ia terlihat tulus tapi aku masih belum bisa mempercayai orang
lain dengan mudah karena masa lalu itu. Aku melangkah mendekati pohon sakura
biru yang menjadi pembatas dunia kami. Tapi setelah aku pikir-pikir tak ada
ruginya, ia tulus dan kami berbeda. Selangkah sebelum menyentuh pohon itu aku
menoleh.
“Apa
aku bisa bertemu denganmu lagi Kyuhyun-ssi ? Kalau bisa kapan ? Aku rasa aku
akan merindukan tempat ini” ujarku
“Saat
hujan!!” Aku mengangguk dan menyentuh pohon itu. Silau.
***
No comments:
Post a Comment