Monday, April 29, 2013

Under Rain [Ficlet]/Cho Kyuhyun Fanfiction Ver


1.        Title                      : Under Rain [Cho Kyuhyun] Fanfiction Ver.
2.        Author                  : Jihwa Ryu
3.        Casts                    : Hwang Jihwa, Cho Kyuhyun and other casts find by your self.
4.        Lenght                  : Ficlet
5.        Rated                   : PG 13
6.        Genre                   : AU, Fantasy and other. Up to reader.
7.        Disclaimer            : Fanfiction ini sebenarnya adalah cerpen kedua yang author buat. Hanya saja pada awalnya ide-nya pengen buat fanfiction tapi ada tugas bahasa indonesia jadi ya buat versi Cerpennya dulu. Ada beberapa bagian yang diubah dari cerpen karena pengembangan dari author sendiri. Author mau curhat dikit nih, cerpen versi asli author buat jam setengah 4 pagi sampai jam setengah 6 pagi. Huff.... No Plagiat, No BASH. Typo(s) anywhere.

Story....
Jihwa
            Aku memandangi langit yang semakin gelap. Hujan. Aku sudah tak sabar. Aku mengambil gelas berisi jus mangga dan meneguk isinya sambil tersenyum tipis. Pasti akan menyenangkan. Itulah yang terlintas dibenakku.
“Hwa-ya!! Jihwa-ya~!!”
“Eh” aku tersentak hingga sebagian dari jus mangga yang kuminum mengenai baju seragamku. Tak apa, tak masalah untuk saat ini.
“Hwa-ya, bajumu basah. Mian,..” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu aku menepuk bahu kanan Eunmi yang kini duduk disampingku lembut. Aku memang tak suka banyak bicara. Bukannya aku bisu. Aku hanya akan bicara saat memang penting saja. Dan itulah aku. Oleh karena itu hanya sedikit orang yang mau berteman denganku.
“Ohya, jadi mengerjakan tugas Ekonomi hari ini tidak ? Kata Ahjumma kamu lagi tidak enak badan ?” Ya ampun!! Aku lupa ada janji mengerjakan tugas dengan Eunmi. Tenang!! Atur ekspresi wajahmu sebaik mungkin Hwa-ya.
“Mian Eunmi-ah, aku memang sedikit tidak enak badan. Mian ya, kita ngerjainnya besok aja. Lagi pula sebenatar lagi mau hujan, nanti kamu pulangnya gimana ?” Yup!! Sepertinya alasanku masuk akal. Akan sulit mencari bus kalau lagi hujan. Eunmi terlihat menimbang-nimbang ucapanku sebelum mengangguk sambil tersenyum.
“ya sudah, kita besok saja mengerjakannya. Kamu sekarang istirahat supaya kondisi kamu membaik. Wajah kamu juga terlihat pucat” aku mengangguk dan mengikutinya yang keluar dari kamarku. Mengantarnya sampai depan rumah.
“hati-hati Eunmi-ah. Mian ya” ujarku didepan pintu rumah. Ia berbalik lalu mengangguk dan meneruskan lagi langkahnya. Aku kembali masuk kekamar. Duduk ditempat tadi. Sofa kecil yang menghadap jendela. 5 menit, 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam!! Ah.. Akhirnya hujan juga. Sudah lebih dari 3 bulan hujan tak kunjung turun itu berarti sudah lebih dari 3 bulan juga aku tak bertemu dengannya.
“Merindukanku Hwa -ya ?” Aku sentak berbalik. Senyumku semakin merekah.
“Kyuhyun-ah, sudah lama kau tak mengunjungiku, kau jahat!!” Ujarku pura-pura marah saat ia duduk disampingku.
“Aku sudah mengatakannya jika aku hanya bisa datang hujan turun” huh... Kenapa harus aturanannya seperti itu sih!!
“Tapikan awan juga mengandung air, kenapa kau-”
“Itu uap air bukan air Hwa -ya!! Aku bangsa Elf biru, jadi hanya dapat hidup ditempat yang terdapat air. Air itu seperti oksigen untukku” aku mengangguk. Paham tidak paham yang jelas aku mengangguk.
“Ingin ke lembah Auzora lagi ?” Tawarnya sambil mengulurkan tangannya. Aku mengangguk kecil dan tanpa ragu meraih uluran tangannya. Ia memejamkan mata dan aku mengikutinya. Aku percaya padanya. Walaupun mataku terpejam namun aku dapat merasakan sebuah cahaya yang begitu menyilaukan menghampiriku. Atau kami lebih tepatnya.
***
“Hwa-ya, ini sudah sore. Aku pulang sayang. Appamu pasti tak ingin melihatmu terpuruk seperti ini” aku menggeleng pelan saat Eomma menyentuh bahuku dan meraih tanganku untuk membawaku pulang. Tidak! Aku tidak ingin pulang. Aku belum siap melepas Appa.
“sayang, sebentar lagi hujan turun. Eomma tak ingin kau sakit. Ayo pulang sayang” akhirnya aku bangkit. Bukan untuk pulang tapi pergi kebukit dimana kami sekeluarga biasa menghabiskan waktu bersama.
“Jihwa Eonni!!”
“Hwa -ya”
            Aku mengacuhkan panggilan mereka. Aku masih belum siap melepas Appa. Aku belum bisa membuatnya bangga padaku. Dan aku butuh ketenangan sekarang. Bahkan aku berani menentang Appa hanya untuk namja berengsek itu. Appa, Mianhada...
**
            Aku duduk dibawah pohon maple yang kering. Yah... Benar juga ini bukan musim hujan tapi kenapa langit begitu gelap ? Lama kelamaan semilir angin sejuk yang menerpa tubuhku mulai mendingin.
Tess
            Tetesan air hujan pertama yang mengenai tubuhku. Aku terpejam saat tak lama kemudian hujan begitu deras menerpa tubuhku. Jika benar hujan itu menghapus jejak panas matahari, lalu bisakah hujan menghapus kesedihanku juga ? Dingin. Bahkan aku sampai menggigil. Aku mendongak saat kurasakan air hujan tak lagi menerpa wajahku.
“Jihwa, jika kau tak kuat seharusnya jangan hujan-hujanan seperti ini. Berlindung diabwah pohon maple yang kering itu tak ada gunanya. Lihatlah sekarang, tubuhmu basah kuyup” sayup-sayup aku mendengar ucapan itu sebelum akhirnya mataku tertutup.
**
“Euh...” Aku membuka mataku yang terasa berat. Aku menoleh kesamping. Ini bukan kamarku.
“Kau sudah bangun nona, syukurlah. Kau seperti ada masalah kau bisa cerita padaku” aku memandang orang itu tak percaya. Aku baru saja bertemu dengannya. Kenal saja tidak!! Eh, tapi kenapa dia-
“Aku menemukanmu kehujanan kemarin. Karena tak tahu rumahmu aku membawamu kemari. Makanlah buah ini dulu. Aku tak punya makanan manusia yang biasa kau makan karena aku hanya makan buah saja” aku menatapnya bingung namun ia berjalan santai keluar begitu saja setelah meletakan nampan berisi pear.
**
            Aku berjalan perlahan sambil mengamati setiap detail rumah ini. Ini nampak seperti puri kecil. Ornamen didinding menunjukan gaya klasik yang kental namun rumah ini didominasi dengan warna putih dan pernak-pernik biru. Ekor mataku menangkap lukisan seorang gadis yang menarik perhatianku.
“Kau sudah siap Hwa -ya” aku menoleh kebelakang. Orang ini- tahu namaku. Dari mana ? Aku belum sempat memberitahu namaku padanya.
“Ehm, aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Ayo!!” Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Dukk. Aku mengusap keningku karena ia tanpa aba-aba berhenti begitu saja didepanku dan menyebabkan keningku menabrak punggungnya. Aish... Sakit juga.
“Jika kau tak ingin tertabrak punggungku lagi, jangan berjalan dibelakangku” cih.. Ucapannya terdengar seperti seorang raja yang memerintah saja. Aku mendesis. Kukira ia orang yang sopan dan baik. Ternyata ia menyebalkan juga.
“Yak!! Kenapa kau tak jalan juga ?” Aku tersadar lalu berlari kecil karena ia sudah berada didepan pintu.
**
“Ini indah. Kyuhyun-ssi, ini dimana ? Kenapa aku tak pernah melihat tempat seindah ini selama ini ? Tapi- ini seperti dilukisan itu” Hey, kau tak melihatnya secara langsung. Dilembah ini ada bunga mawar merah, mawar putih, mawar kuning dan- mawar biru!! Mawar biru, mawar yang dianggap mitos keberadaannya itu sekarang berada di hadapanku!!
“Ini sapphire blue, kau- sedang tak berada di duniamu Hwa-ya” aku menoleh menatapnya. Untuk sesaat aku mengurungkan niatku untuk memetik mawar biru itu.
“Apa maksudmu Kyuhyun-ssi ? Dari tadi kau mengatakan aku tak menyediakan makanan seperti manusia, ini Sapphire blue dan- kau tahu namaku tanpa aku menyebutkannya. Kau membuatku bingung” ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang berhembus. Aku mengalihkan lagi perhatianku menatap bunga yang hidup liar dilembah ini.
“Bukankah aku sudah mengatakannya kenapa kau tak percaya juga. Aku bukan manusia. Aku bangsa Elf, lebih tepatnya Elf biru. Dan kau berada diduniaku sekarang”.
“hahaha... Kyu, sudah jangan membuatku tertawa karena leluconmu itu”
“Hwa -ya, tapi aku tak berbohong!!” Aku berhenti tertawa. “apa aku bisa kembali ke duniaku ?” Tanyaku lirih. “hahahahaha...” Sekarang tawanya yang pecah. Oh, sungguh. Apanya yang lucu hingga  ia tertawa seperti itu. Menggelikan. Memangnya aku baru saja menjadi pelawak apa!!
“Berhenti tertawa Kyuhyun bodoh!!” Aku menghentakkan kaki kesal lalu berjalan tak tentu arah meninggalkannya yang masih tertawa. “Hwa -ya, kau mau kemana ? Mian. Tapi kau lucu sekali menanyakan hal itu” aku berbalik dengan memasang wajah cemberut dan kesal. Ia berjalan santai menghampiriku dan- ia melayang!!
“Aku bisa terbang tapi dengan sayap karena aku tak membawanya aku hanya bisa melayang” ia meraih tanganku dan mengenggamnya. Aku hanya mengikutinya saja tanpa niat untuk berontak.
“Sampai!!” Ia melepaskan genggamannya dan duduk mencelupkan kakinya ke kolam yang penuh dengan teratai.
“Kau tahu, kolam ini adalah kolam yang menampung air mata manusia yang menetes karena kesedihan ataupun karena kebahagiaan. Air mata kesedihan berada didasar kolam paling dalam hingga tumbuhan ataupun hewan tak bisa tumbuh. Air mata kesedihan berada di dasar kolam karena massa jenis air mata itu lebih berat. Begitu juga air matamu, air matamu hanya dapat memberatkan appa-mu yang berada di alam lain.” aku mengikutinya duduk ditepi kolam tanpa niat mencelupkan kakiku sepertinya.
“Aku bingung denganmu Kyuhyun-ssi. Entahlah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana, yang jelas aku merasa kau tahu segalanya tentang aku walau belum lama aku mengenalmu. Tapi sebaliknya, aku tak tahu apapun tentangmu. Kau seperti tak nyata tapi aku percaya padamu aku mengikutimu membawaku kemana saja tanpa niat lari darimu”
“Kau tak akan pernah lari dariku. Aku selalu ada disampingmu. Aku menatapmu saat kau tertidur, aku melihatmu dalam kegelapan, aku menemani langkahmu dalam kesunyian dan  aku selalu menjagamu dalam diam. Aku tahu semuanya tentangmu. Itu sudah cukup membuatku mengenalmu. Kau pernah mendengar cerita tentang bangsa Elf ?” Aku menggeleng pelan.
“Kami bangsa peri. Sebenarnya kita hidup disatu tempat sama tapi dunia kita berbeda. Dan asal kau tahu kematian itu bukan akhir dari segalanya, serta air mata adalah awal dari kesedihan dan kesengsaraan. Air mata kesedihan dikolam ini bagaikan racun. Apabila terlalu banyak dapat membuat makhluk hidup yang hidup disini mati.”
“Didasar kolam sepertinya sangat indah” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum lalu berdiri. Ia meniup udara membentuk gelembung raksasa, aku hanya tertegum melihatnya. “masuklah agar kau bisa bernafas diair” aku mengangguk. Aku bangkit dan masuk ke gelembung raksasa itu. Aneh!! Tidak pecah. Ia mendorong gelembung itu hingga terjebur kedalam kolam. Dan ia juga masuk kedalam kolam. Benar! Ia bisa bernafas dikolam. Wa~~w.
            Ikan disini beraneka ragam, sungguh indah. Ini seperti Bunaken hanya saja tak ada terumbu karangnya. Jika aku kembali apa aku bisa kemari lagi ? Bertemu dengan marcus-ssi lagi ? Aku harap!! Ia orang yang mengertiku.
**
“Hati-hati, Mian aku tak bisa mengantarmu” aku mengangguk. “ini” aku terperangah. Rangkaian bunga yang ia bawa serba biru. Mawar biru, lily biru, tulip biru, anyerlir biru, edelweis biru, anggrek biru, poppy biru. Tapi apa tak apa jika aku membawanya ?
“Kau tenang saja. Bunga ini tak akan layu dengan cepat, mungkin bisa bertahan sampai 1 bulan” tanpa ragu aku meraihnya.
“Gamsahamnida” ujarku dan dibalas senyum simpulnya.
“Aku janji akan sering mengunjungimu dan membawakan bunga yang segar untukmu. Kau bisa menjadikanku sandaranmu pengganti Appa-mu Jihwa-ya” aku hanya mengangguk dan berbalik. Ia terlihat tulus tapi aku masih belum bisa mempercayai orang lain dengan mudah karena masa lalu itu. Aku melangkah mendekati pohon sakura biru yang menjadi pembatas dunia kami. Tapi setelah aku pikir-pikir tak ada ruginya, ia tulus dan kami berbeda. Selangkah sebelum menyentuh pohon itu aku menoleh.
“Apa aku bisa bertemu denganmu lagi Kyuhyun-ssi ? Kalau bisa kapan ? Aku rasa aku akan merindukan tempat ini” ujarku
“Saat hujan!!” Aku mengangguk dan menyentuh pohon itu. Silau.
***

No comments:

Post a Comment