Kapanlagi.com - Sejumlah seniman dan budayawan Bandung secara khusus akan mendiskusikan masa depan angklung dan musik bambu di Tatar Parahyangan dalam upaya mendorong eksistensi Angklung dan Masa Depan Musik Bambu di Indonesia. Rencananya, diskusi untuk mengupas tuntas alat musik bambu di Jawa Barat itu akan berlangsung di Bandung, Sabtu (21/7) mendatang.
"Di Jawa Barat banyak alat musik yang terbuat dari bambu sehingga perlu untuk mendiskusikan masa depan alat musik bambu ini, khususnya angklung yang mulai terancam dipatenkan oleh Malaysia," kata Presiden Republic of Entertainment, Wawan Juanda, di Bandung, Rabu (18/7).
Diskusi yang akan dipandu oleh budayawan Hawe Setiawan itu akan menghadirkan nara sumber, yakni Rektor STSI Arthur S Nalan dan General Manager Divisi Pengembangan dari Saung Angklung Udjo Satria Djanuar dan Budi Supardi dari Masyarakat Musik Angklung.
Kegiatan itu merupakan persiapan menuju Festival Musik Nusantara yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 18-19 Agustus 2007 mendatang. Workshop serupa juga digelar di Denpasar, Solo dan Jakarta dengan topik berbeda sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
"Musik bambu merupakan bagian dari Khasanah Budaya Nusantara yang memiliki potensi untuk tampil di kancah international," kata Wawan Juanda menambahkan
Kapanlagi.com - Dalam rangka perayaan ulang tahun ke-6 pada bulan Mei ini, Majalah Rolling Stone Indonesia mencanangkan sebuah gerakan untuk anak negeri yang berjudul '1000 Gitar Untuk Anak Indonesia'. Gerakan ini merupakan sebuah gerakan sosial yang berbentuk pembagian 1000 gitar akustik kepada anak-anak kurang mampu dari berbagai usia, ras, suku, dan agama.
Rencananya, 1000 gitar tersebut akan dibagikan dalam rentang waktu satu tahun dan didistribusikan secara nasional ke lebih dari 100 rumah singgah, pesantren, panti asuhan, penjara anak-anak dan lainnya.
"Gerakan ini bukan hanya untuk ultah Rolling Stone. Ini merupakan tanggung jawab kita semua," ucap Andy F Noya, President Director Rolling Stone Indonesia saat menggelar jumpa pers di kantornya, Ampera, Jakarta Selatan, Jumat (6/5).
Ditambahkan oleh Adib Hidayat selaku Managing Editor, kalau dipilihnya gerakan ini karena melihat musik sebagai bahasa universal yang selalu memberikan semangat baru, kegembiraan baru, harapan baru kepada masa depan Indonesia di luar adanya perbedaan suku, ras, agama, dan status.
"Dalam setiap ulang tahun, kami memang selalu menyuguhkan sesuatu yang beda. Tahun ini tidak ada pesta yang wah. Tapi, saat banyak orang yang pesimis terhadap masa depan Indonesia yang katanya hopeless, kami bikin harapan baru buat generasi muda Indonesia. Kami pilih musik karena hanya ada 2 hal yang bisa mempersatukan satu konflik, yaitu musik dan olahraga. Dan musik, selalu mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Namun, banyak juga anak Indonesia yang tidak mampu dengan talenta yang tak tergarap," imbuhnya.
Rolling Stone Indonesia bermaksud juga untuk melibatkan industri musik Indonesia dalam gerakan ini. Dan nantinya akan ada 100 orang gitaris Indonesia dari berbagai genre musik untuk menjadi ikon dari gerakan ini.
"Para gitaris nasional ini rencananya akan kami libatkan dalam kegiatan mendistribusikan gitar-gitar tersebut ke titik-titik pembagian dan memberikan sedikitcoaching clinic yang kami yakini akan menjadi inspirasi bagi generasi muda," pungkas Adib yang membuka kesempatan bagi semua pihak atau perorangan yang mempunyai visi dan misi yang sama, baik dari sisi moral, finansial, maupun pendistribusian