Title : Sight
Author : K.
Fortuna
Casts : Marcus
Cho, Alliciana Park, Keirai
Length : Ficlet
Genre : AU,
Fantasy, Romance
Rated : PG 15
Disclamer : This
Fanfiction is Mine. Don’t be Plagiat, pure my idea.
Story...............................
Author POV
“Mau apa kau kemari ? kurasa kau bukan orang bodoh yang tak tahu
tentang aturan disini!” yeoja berkulit putih dengan gaun panjang putih yang
dihiasi pernak-pernik disana-sini itu mengacungkan tongkatnya pada namja yang
masih memasang wajah santainya itu.
“Wae ? aku hanya ingin jalan-jalan” ujar namja itu santai. Ia tak
memasang wajah waspada seperti yeoja yang ada dihadapannya. Bahkan namja itu
tak mengeluarkan tongkatnya untuk menjaga dirinya.
“Yak! Marcus Cho! Aku bertanya baik-baik padamu. Atau kau mau aku
menyerahkanmu pada Keirai!” yeoja itu semakin geram menghadapi namja yang ada
dihadapannya.
“Kau tahu aku ? apa aku juga terkenal dikalangan Elf hijau ? aku
kira aku hanya terkenal di bangsaku saja” yeoja itu mencelos mendengar kata
demi kata yang keluar dari mulut namja itu.
“Pantas saja bangsamu-Elf biru-sangat tidak tahu aturan. Ternyata
Chizhou mereka lebih tak tahu aturan” yeoja tadi tersenyum mengejek.
“Apa yang kau katakan ? tarik lagi kata-katamu jika kau masih ingin
hidup!” rahang Marcus mengeras mendengar penuturan dari yeoja dihadapannya.
“Aku tak akan pernah menarik kata-kataku. Jika kau tidak tahu aturan
lalu apa namanya ? kau melewati lembah Verquez dan berkeliaran di hutan Aratis.
Apa tujuanmu kemari ? menjadi penyusup ? atau membuat keonaran di Mateya!”
Marcus mulai terbakar emosinya. Hari juga sudah mulai malam. Hawa dingin itu
mulai terasa di hutan Aratis yang letaknya tak jauh dari kota Mateya.
“Apa tujuanku kemari itu bukan urusanmu” terdengar nada ketus
keluar dari mulut namja dengan mata biru laut itu. Rambut coklatnya bergoyang
seirama dengan jubah hitamnya yang elegan.
“Kau berada diwilayah kekuasaanku! Jadi katakan apa tujuanmu datang
kemari” Marcus mempertajam tatapan matanya pada yeoja yang ia tak tahu siapa.
Yang jelas ia adalah makhluk sepertinya. Elf. Namun matanya berwarna hijau.
“Alliciana Park” desis Marcus.
“Baguslah jika kau sadar sekarang kau berhadapan dengan siapa”
Alliciana kini melayang. Tongkat Atarios masih digenggaman tanganya. Tongkat
dengan permata Ovilin kuning-kehijauan. Marcus menatap yeoja yang berada di
kini melayang diatasnya itu.
“Sekarang katakan apa tujuanmu datang kemari! Aku tak punya banyak
waktu. Jika kau tidak mengatakannya maka aku akan membawamu ke Keirai” Marcus
menatap Alliciana sendu.
“Aku hanya ingin bertanding denganmu”
“baiklah. Modus amarus” tanpa Marcus duga Alliciana langsung
mengarahkan tongkat Atariosnya pada dirinya. Namun untunglah ia bisa bergerak
cepat untuk menghindar.
“Modus Amarus” Marcus dengan cekatan berpindah tempat menghindari
cahaya putih dari Atorios.
“Modus Amarus” lagi. Alliciana mengarahkan tongkatnya kearah
Marcus. Kali ini ia tak menghindar. Mengarahkan tongkat Loverdisnya keatas
dengan cepat.
“Revour” cahaya putih yang keluar dari Atarios itu lenyap.
“Modus amarus”-“Revour” Marcus kini ikut melayang seperti
Alliciana.
“Apa maumu ? kenapa kau tidak balas menyerang. Kenapa dari tadi kau
hanya menghindar ? bukankah kau tadi mengatakan ingin bertanding denganku”
Alliciana menurunkan Atoriosnya. Ia menatap Marcus yang kini juga melayang 2
meter darinya. Entah kenapa ia yakin Marcus tidak akan menyerangnya.
“Appa terkena racun Lucifer. Ia membutuhkan daun Orodis, namun di
Amasia sudah tak ada lagi. akhirnya aku kemari. Aku harap kau mau memberiku 3
helai daun Orodis. Aku mohon... aku janji tidak akan memasuki Mateya lagi”
Marcus menatap Alliciana penuh harap.
“Baiklah” Hari sudah malam. Mereka meninggalkan hutan Aratis.
Cahaya mereka saat terbang membuat langit disekitar mereka menjadi terang.
___________________________________________________________________________
“Appa” namja paruh baya yang sedang duduk diatas balkon menara
pengawas itu mengalihkan perhatiannya menuju suara yang sudah tak asing
baginya. Bahkan sangat familiar.
“Alliciana. Kau-” Dennis-Keirai Elf Hijau- tak mampu berkata
apa-apa.
“Alliciana. Dibelakangmu” petik Dennis melihat sosok dibelakang
putri tunggalnya yang tengah melayang menghampiri dirinya.
“Pengawal........!!!” Dennis berteriak histeris. Ia tak ingin
Alliciana terbunuh seperti istri dan kakaknya.
“Appa... tak apa, Marcus kemari hanya ingin meminta bantuan tidak
lebih” Ujar Alliciana melihat begitu banyak pengawal yang berada disekitar
mereka.
“Tangkap Marcus” perintah Dennis. Jelas tergambar rasa bencinya
saat menatap Marcus. Lebih tetapnya saat melihat makhluk yang sama seperti
Marcus-Elf Hijau-.
“Jangan!!” Alliciana membalikkan tubuhnya ia memeluk Marcus. ia
merasa bahwa Marcus sangat memerlukan daun Orodis itu. Ia rasa Marcus adalah
makhluk yang baik.
“Alliciana. Apa yang kau lakukan chagiya. Mereka berbahaya” Dennis
memperingatkan putri satu-satunya itu. Alliciana melepaskan pelukkannya. Yeoja
dengan pakaian kerajaan itu menautkan tangannya pada namja disampingnya.
“Marcus hanya ingin meminta 3 helai daun Orodis saja Appa. Cho
Keirai sekarang sedang sekarat. Ia terkena racun seorang Lucifer”Marcus menatap
yeoja disampingnya. Cahaya bulan yang menerpa wajah yeoja itu membuatnya jauh
lebih mempesona.
“Apa benar Cho terkena racun Lucifer ?” tanya Dennis pada Marcus.
namja itu tergagap dan kembali pada dunia nyata.
“N-ne. Park Keirai”
“Baiklah. Ambil saja. Setelah itu pergi dari Mateya, kembalilah ke
Amasia. Kalian semua kembali ke pos jaga masing-masing” ujar Dennis. Ia memang
Keirai yang bijaksana.
“Ku harap kau tidak membuat keonaran di Mateya” Dennis menatap
tajam Marcus.
“Ne. Park Keirai. Gomapta, jeongmal Gomapta. Aku berhutang budi
pada Anda Park Keirai” Marcus menunduk hormat. 2 bangsa ini memang saling
bermusuhan, oleh karena itu Keirai memutuskan memisahkan Mateya dan Amasia.
“Alliciana, antarkan Marcus ke taman” Alliciana tersenyum lalu
mengangguk.
“Ne Appa. Kajja Marcus-ssi”
Alliciana berbalik
begitu juga dengan Marcus. ia kembali menunduk hormat sebelum mengikuti
Alliciana yang telah terbang 5 meter didepannya.
“Aku akan berusaha untuk tak mengungkitnya lagi, Violien” gumam
Dennis setelah Alliciana dan Marcus menghilang dari hadapannya. Ini kali
pertamanya bertemu dengan bangsa Elf biru setelah kematian Istrinya-Violien-.
Ia dan putrinya dibunuh oleh seorang Elf biru menggunakan racun dari Lucifer.
___________________________________________________________________________
“Kau yakin akan mengantarku sampai hutan Aratis ?” Marcus menatap
Alliciana yang terbang disampingnya. Tubuh mereka saat terbang mengeluarkan
percikan cahaya seperti kembang api yang berwarna hijau-Alliciana- dan
biru-Marcus- yang menyatu.
“Ne. wae ? aku hanya takut kau kenapa-napa ? bukannya apa-apa, kau
adalah Chinzhou bangsa Elf biru, jika kau kenapa-napa bagaimana ? bukankah Cho
Keirai sedang sakit ?” sebenarnya bukan itu alasan Alliciana. Ia merasa bahagia
saat berada didekat Marcus.
“Tak apa. Aku membawa Loverdis. Cukup mengantarku sampai sini saja.
Terima kasih telah percaya padaku dan memberikan daun Orodis. Terima kasih
telah mengantarku. Dan sampaikan terima kasihku pada Park Keirai. Juga maaf
karena kejadian dulu Appa-ku tidak bisa berbuat apa-apa” Marcus melepas
genggaman tangannya pada Alliciana. Ya. Dari tadi mereka terbang dengan jari
yang saling terkait. Bukankah itu sangat romantis ?
“Aku pergi. Kuharap kita bisa bertemu kembali Park Chinzhou” seru
Marcus sebelum ia terbang jauh meninggalkan Alliciana. Marcus tersenyum manis
kemudian cahaya biru membawanya terbang melewati gelapnya malam dengan sangat
cepat.
“Semoga kita bisa bertemu kembali Cho Chizhou” ujar Alliciana
lirih. Alliciana tersenyum kemudian berbalik terbang untuk kembali ke kastil.
___________________________________________________________________________
“Nifodis-aratus” Marcus mengarahkan Loverdisnya kearah yeoja asing
yang bersembunyi diantara pohon pinus. Hutan Omifena memang menjadi tempat ia
biasa latihan karena tempat ini sepi. Marcus mendekati yeoja yang telah ia ikat
dengan mantranya tapi. Ia memang merasa ada yang mengikutinya saat ia berlatih.
“Kau ?” Marcus memetik melihat yeoja yang berada dihadapannya kini.
“Ne. ini aku. Wae ? bisakah kau melepaskannya” ujar yeoja berambut
hitam legam sepinggang itu.
“N-ne. baiklah” Marcus tergagap melihat siapa yang berada
dihadapannya. Namun ia mengarahkan Loverdisnya kearah yeoja itu.
“Aratus-masis” ikatan gaib itu terbuka. Alliciana langsung
menghambur kearah Marcus. namun Marcus masih saja diam.
“Wae ? kau tak senang bertemu denganku ? bahkan aku sudah membelamu
dihadapan Appa-ku” Alliciana melepaskan pelukkannya.
“Bukan begitu. Hanya saja kau bisa bahaya jika terlalu lama disini”
Marcus menelisik kearah sekitar. Ia takut ada pengawal yang mengetahui Chinzhou
dari bangsa Elf hijau disini.
“Appa mengundangmu dan Cho Keirai ke Mateya. Ia ingin membuka
penghalang antara Mateya dan Amasia” ujar Alliciana dengan nada yang ketara
sekali bahwa ia sangat bahagia.
“Bukankah tanpa membuka penghalang itu kita biasa keluar masuk
Mateya-Amasia” cibir Marcus.
“Aish. Terserah,... aku pulang” Alliciana awalnya hanya merajuk
saja. Ia ingin melihat ekspresi Marcus yang memohon padanya.
“Pulanglah. Jika perlu jangan kembali” ujar Marcus acuh. Alliciana
hanya mendesus sebal. Setelah ia mengenal Marcus lebih jauh, ternyata namja itu
sangat menyebalkan.
“Katakan pula pada Park Keirai, aku akan kesana dengan Appa untuk
melamar Putrinya yang cengeng” teriak Marcus saat Alliciana berada cukup jauh
darinya.
“Sudah jangan merajuk” tiba-tiba Marcus memeluk Alliciana dari
belakang. Marcus membalikkan badan Alliciana menghadapnya.
“Seperti yang kau katakan. Kita akan menyatukan Mateya dan Amasia
kembali. Sebentar lagi, kita tak perlu bertemu secara diam-diam seperti ini”
Marcus mengelus pipi putih bak porselin Alliciana. Menatap mata kuning yeoja
dalam dekapannya.
“Katakan pada Park Keirai, aku dan Appa akan datang besok” bisik
Marcus ditelinga Alliciana lembut. Marcus mengelus rambut hitam Alliciana.
CUP
Kecupan singkat
dari Marcus dibibir Alliciana menjadi sihir bagi Alliciana. Yeoja itu masih
membelangkkan matanya. Sementara Marcus tersenyum manis. CUP. Lagi. Marcus
mengencupnya, namun kali ini cukup lama. Alliciana memejamkan kelopak matanya.
Tangannya melingkar dileher putih pucat Marcus.
Setelah cukup lama
Marcus melepaskannya. Sebenarnya Alliciana masih ingin marasakan manisnya bibir
Marcus. Marcus menatap Alliciana lembut. Ia mengelus bibir Alliciana yang
terlihat merah karenanya.
“Nanti lagi. sekarang sebaiknya kau pulang” ujar Marcus lembut.
Namja itu melepaskan pelukannya. Alliciana perlahan melayang, ia melambaikan
tangannya sambil tersenyum.
“Aku menunggu janjimu Cho Chinzhou” ujar Alliciana memasang wajah
dingin. Kemudian perlahan berbalik. Marcus hanya tersenyum melihat Alliciana
yang kini hendak kembali ke Mateya.
“Chagiya, saranghae” teriak Marcus.
___________________________________________________________________________
END
Ket :
Makhluk bernama Elf dibagi menjadi 2 berdasarkan keturunan. Elf
biru-bermata biru- dan Elf Hijau-bermata hijau-
Keirai = sebutan untuk raja bangsa elf
Chinzhou = sebutan untuk pangeran bangsa elf
Lembah Verques = lembah pembatas dimana penghalang antara Mateya
dan Amasia dipisahkan. Hanya Keirai dan Chinzhou yang bisa menembusnya.
Hutan Aratis = wilayah bangsa Elf hijau yang paling dekat dengan
lembah Verques
Orodis = pohon yang sangat langka. Pohon yang merupakan tanaman
obat.
Lucifer = makhluk yang memburu Elf untuk diambil hatinya untuk
dijadikan tumbal untuk upacara.
Mateya = tempat tinggal Elf hijau
Amasia = tempat tinggal Elf Biru.
Bye....
_____