Title : i love
you a thousand times
Cast : Lee Donghae, Lee Ji Kyung
Sub cast : Ahn Hyomin, Lee Eunhwa, and other cast
Author : K.
Fortuna
Leght : oneshoot
Rate : PG-15
(Maybe)
Genre : AU,
angst(maksa)
Disclaimer : author ini author amatir, baru mencoba-coba terjun ke dunia
per-FF-an. Cerita ini milik author. Maaf kalau banyak typo(s), dan kata-kata
yang kurang berkenan dihati reader.
Nb :
author gak maksa buat RCL, seikhlasnya saja dan kalau mau re-post boleh tapi
nama authornya gak boleh diganti. Walau
ini adalah FF kedua yang berhasil author selesaikan.
Ji kyung POV
“ oppa, bisakah kita bertemu,, hari ini aku sangat rindu padamu..
aku kekantor ya” ucapku sediit manja. Kenapa ? karena namjachingu-ku ini sangat
ku menyebalkan jika sudaah berurusan dengan kerjaan. Sebegitu gila kerjakah dia
?
“mian ji-kyung ah hari ini oppa ada meeting dengan invertor dari
jepang nanti malam saja oppa kerumahmu eoh ?”
“ah, baiklah. Kalau begitu oppa jangan lupa makan, sebentar lagi
jam makan siang. Anyeong”
“ne, anyeong” PIP
Selalu seperti ini. Aku merasa bahwa ia hanya menganggapku teman
atau dongsaenng saja tak lebih. Kadang aku memang merasa lelah jika harus terus
menerus seperti ini. Huff.... selalu saja seperti ini. Sampai kapan kau berada
dalam bayang-bayangnya oppa?
Dari pada bosan
lebih baik aku keluar saja. Jalan-jalan tak cukup buruk untuk menghabiskan
libur panjang kuliah tahun ini. Ku ambil syal putih pemberian donghae oppa. Ku
ambil kunci mobil, tas kucek isinya dompet handphone kartu credit. Baiklah
kurasa kebioskop seorang diri tak terlalu buruk.
Huff, sabar ji-kyung. Aigoo kenapa disini rata-rata atau malah bisa
dibilang semuanya adalah pasangan kekasih. Huff....lagi-lagi aku mendesah
sebal. Tiba-tiba aku teringat kejadian itu 2 tahun yang lalu...
_____________back
“ji-kyung ah. Aku minta maaf padamu. Jeongmal mian. Aku baru tahu
bagaimana rasanya ditinggal orang ynag kita sayang. Maafkan aku” ucap donghae
sunbaenim padaku ditaman kampus yang sangat sepi
“maksudmu apa sunbae ? malhaebwa” ucapku sedikit terkejut bukankah
dongahe sunbaenim dan hyomin sunbaenim adalah pasangan paling awet. Walaupun
banyak yang mengejar salah satu diantara mereka _termasuk aku_tapi mereka
selalu saja lengket.
“hyomin pergi. Dia selingkuh. Dan dia sekarang berada di jepang..
bukankah ini sangat mengejutkan, selingkuh kemudian pergi. Apakah kau sesakit
ini saat ku bentak. Haaah pasti lebih sakit dari ini. Bukankah begitu ?”
ucapnya sambil tersenyum miris.
“apakah aku boleh menggantikannya. Setidaknya aku ingin menemanimu
saja. Aku yakin kau pasti sedang kacau. Sunbae bukankah kau tahu bahwa aku
sangat mencintaimu. Kalau kau mau aku memaafkanmu maka ijinkan aku menjagamu.
Ayolah sunbae, yah ?”
“tapi aku masih sangat mencintainya. Kau hanya akan sakit saja bisa
begitu. Aku hanya ingin meminta maaf padamu karena dulu aku pernah mengatakan
bahwa kau wanita murahan. Bukannya sekarang hyomin sendiri yang aku bandingkan
denganmu lebih murahan”
“sunbae. Tak apa. Aku tetap mencintaimu. Aku tulus. Kau tak apa
bila masih mencintanya, ku bisa menunggu. Akan berusaha membuatmu mencintaiku
tapi aku tak akan memaksamu mencintaku” ucapku
yakin. Walau sakit bukankah itu bisa. Aku kadang melihatnya sedang berciuman
dengan hyomin sunbaenim
“gomawo kau tulus mencintaiku. Tapi ji-kyung ah... aku tak yakin
bisa cepat mencintaimu” ucapnya pelan
“tak apa oppa. Eh maksudku sunbae” babo ji-kyung kenapa kau salah
bicara tapi tak apa. Bukankah sekarang bisa dibilang kau adalah yeojyachingunya
“ku rasa itu lebih baik ji-ah”
____________________________________
Dan sampai saat ini juga aku merasa demikian. Harus ku akui bahwa
aku sebenarnya sudah lelah membuatnya mencintaiku. Tapi aku juga tidak mau ia
merasa aku memaksanya untuk mencintaiku. Seperti halnya dulu aku hanya ingin
hatinya tenang dan damai. Menjaganya untuk tetap tersenyum. Hal yang baru aku
sadari apa tujuan mencintai seseorang yang begitu berarti.
“agasshi. Mian filmnya sudah selesai dan semua penonton diharap keluar”.
“eh. Nde mian tuan”
Setelah keluar aku melirik jam tangan berwarna silver di lengan
kiriku. Baru jam 3 sore. Sebaiknya aku membeli bahan makanan untuk minggu
depan. Hufff...... baiklah Lee Ji Kyung kembalilah kedirimu sendiri. Ini bukan
dirimu. Ayolah kau asudah biasa seperti ini. Berpikir positif Ji Kyung. Hari
ini akan baik-baik saja...
______________________________________
Sayur sudah, susu, buah apel,
anggur, pear, jeruk cukup, daging juga sudah.... beli sedikit cemilan ah..... setelah kurasa cukup, aku berjalan menuju
kasir. Setelah membayar semuanya aku berjalan hendak pulang. Saat aku melewati
sebuah restoran jepang mataku tak sengaja menagkap bayangan seorang namja. Lee donghae. Ia sedang bersama seorang yeoja.
Mereka seperti tidak membicarakan urusan kantor. Bagaimana mungkin ada urusan
kantor yang dibicarakan sambil tertawa. Ji kyung lebih baik kau segera pergi
dari sini eoh.
__________________________
Setelah kejadian aku melihatnya di
restoran jepang itu aku tak pernah berusaha menghubunginya. Biar ia sendiri
yang menyadari perbuatannya dan meminta maaf padaku. Tapi setelah aku menunggu
3 minggu, ia tak kunjung menyadarinya. Menghubungiku lewat pesan singkat saja
tidak, apalagi menemuiku. Apa ada atau tidaknya aku dikehidupannya memang tak
berarti.
Aku diberitahu oleh pihak
universitas aku mendapat kesempatan melanjutkan belajarku di Jerman, setelah
aku lulus S1 disini. Aku sudah menghubungi keluargaku yang ada di Cheonan.
Mereka setuju, tapi mereka tak akan memaksaku jika aku tak mau. Sebenarnya aku
ingin pergi, tapi bila Donghae oppa melarang aku tak akan pergi. Tapi apa ia
bahkan tak menghubungiku selama 3 minggu ini. Aku juga mendapat tawaran kerja
disalh satu majalah ternama sebagai Jurnalis. Apakah aku ambil saja ya beasiswa
ke Jerman. Tapi kalau aku ambil aku akan meninggalkan Korea awal bulan depan,
itu artinya 3 minggu lagi. Dan ada waktu istirahat 2minggu, karena acara wisuda
seminggu lagi. Aigoo aku makin pusing. Ah, lebih baik tidur siang saja. Sehabis
kuliah capek banget.
_____________________
saranghae
cheonbeoneul haedo tto haejugo sipeun mal
nae
simjangeul ttwige haejuneun mal
‘aigoo, siapa sih. Mengganggu orang
saja. Ponsel ku dimana ya’. Gumamku dalam hati. Tanganku meraba-raba laci kecil
disamping tempat tidur. Ah, ini dia. Kutekan tombol hijau tanpa kuliat siapa
penelponya.
“yeoboseyeo”
“Kyung-ah.
Bisakah kita bertemu” suara ini. Oh, Donghae oppa. Ia seperti ragu saat
mengucapkannya.
“ne. Oppa
datang saja ke apartemenku. Aku juga ada yang ingin ku bicarakan”
“baiklah,
sekarang kau tunggu oppa di apartemenmu”
“ne.
Hati-hati saat menyetir oppa. Anyeong”
“ne.
Anyeong”
__________________
15 menit kemudian
Ting tong
Ting tong
Ah, itu pasti
Donghae oppa.
Cekleek
“Ji-kyung-ah” ucap Donghae oppa sambil memelukku tiba-tiba. Ada apa
dengannya aneh.
“oppa masuk dulu. Lepaskan. Tidak enak dilihat tetangga”
“ne. Baiklah, kajja” Donghae oppa melepaskan pelukkannya, ia
mengandeng tanganku lembut. Ia tak pernah bersikap seperti ini kepadaku. Apa ia
sakit ? molla.
Kami duduk disofa
ruang tengah dekat dapur. Aku lihat ia gelisah. Matanya bergerak-gerak tak
karuan tapi ia tetap duduk dengan tenang. Ku genggang tangan kirinya. Ia
menoleh cepat kearahku. Aku tersenyum. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu
kepadaku. Ada yang ingin ia sampaikan padaku, tapi kulihat ia ragu. Ku pikir
ini adalah sesuatu yang buruk, tapi jika ini yang terbaik untukmu. Apapun itu
Hae oppa.
“ada apa oppa. Katakanlah, tadi kau bilang ada yang ingin kau
katakan denganku” aku mencoba untuk meyakinkannya. Aku tersenyum. Dengan
tangannya yang masih kugenggang.
“kemungkinan besar kita tidak akan bersama lagi Kyung-ah” donghae
oppa menunduk. Tak biasanya ia seperti ini. Dan bukankah ia bilang akan
berusaha mencintaiku. Kenapa sekarang ia menyerah ditengah jalan. Aku tahu
sampai sekarang ia belum juga mencintaiku tapi kenapa ?
“oppa. Wae ? oppa, hari kau aneh sekali. Kau selama 3 minggu ini
tak menghubungiku. Tiba-tiba kau ingin bertemu dan langsung memelukku. Sekarang
kau mengatakan tak bisa bersamaku. Ada apa oppa ??” aku tak mau terbawa emosi.
Aku tak mau menangis sekarang. Walau ini bisa termasuk bencana untukku. Orang
yang tak mudah untukku dapatkan.
“perusahaan uri appa mengalami masalah keuangan. Karena itu ia
meminta bantuan kepada temannya untuk menginvestasikan uangnya. Ia mau
menginvestasikan sebesar 10 miliyar won keperusahaan appa. Tapi ia menawarkan
syarat untuk menjodohkanku dengan putrinya. Kalau dalam bulan ini, perusahaan
appa tidak ada investor yang mempercayakan uangnya, appa akan gulung tikar.
Tapi masalahnya, putrinya itu adalah Hyomin” ia meraih kelapaku ia sandarkan
kedadanya. Jujur jika yeoja itu Hyomin sunbae aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku
akan kalah telak olehnya. Donghae oppa mengusap pelan kepalaku. Oppa aku ingin
menangis. Aku takkan kuat.
“kyung-ah, jujur awalnya oppa sangat senang pada akhirnya aku bisa
bertemu lagi dengannya. Aku kira rasa sayangku padamu hanya sebatas oppa ke
dongsaengnya saja. Oleh karena itu oppa tak ingin kau terluka jadi oppa
sembunyikan ini darimu. Oppa tahu kau selalu mencintai oppa. Mengutamakan
kebahagiaan oppa, daripada kebahagiaanmu” ia berhenti. Mengambil nafas sejenak.
Suaranya sedikit serak.
“akhir-akhir ini oppa selalu memimpikanmu. Dimimpiku kau memakai
baju putih sangat anggun. Dalam mimpiku saat kita ada pantai kau tenggelam
bersama ombak. Ditepi jurang, tiba-tiba kau terjatuh dan kau hilang. Saat
berada di lembah yang sejuk dan penuh dengan bunga dan ilalang tiba-tiba ada
angin yang membawamu pergi. Bahkan tadi malam dalam mimpiku. Aku denganmu
sedang duduk di kursi. Kau bersandar dibahuku. Tempat itu putih semua. Namun
tiba-tiba kau bangkit dan kau mengucapkan selamat tinggal dan menjaga
kesahatanku. Kemudian ada cahaya putih terang mengelilingimu dan menghilang
bersama dirimu yang tersenyum” apakah ini memang takdirku. Jauh darinya dan
takkan memilikinya.
“aku terbangun pukul 5 pagi. Aku merenung. Sampai akhirnya aku
sadar. Kyung-ah aku mencintaimu. Aku terbiasa dengan kehadiranmu. Aku ingin kau
selalu bersamaku. Kenapa aku baru menyadarinya. Aku takkan bisa tersenyum
tanpamu. Aku takut kau pergi Kyung-ah. Seandainya aku bisa setidaknya aku ingin
bersikap baik padamu. Tak mengangacuhkanmu. Setidaknya 2 tahun kau bisa
merasakan benar-benar memiliki seorang namjachingu. Mianhe chagi-ya” aku rasa
rambutku basah. Donghae oppa menangis untukku. Aku bahagia, tapi aku lebih
bahagia ia tersenyum walau aku sakit, daripada ia merasa tersakiti seperti ini.
“oppa. Aku bahagia, bahkan sangat bahagia karena kau mencintaiku.
Tapi oppa kau harus menjadi anak yang berbakti. Kau harus mengikuti keinginan
orang tuamu. Aku akan lebih bahagia lagi jika kau bahagia oppa”
“chagi-ya apa maksudmu ?”
“aku tak apa jika kau dijodohkan dengan Hyomin sunbae, karena oppa
pasti bahagia bila bersamanya. Dan-“
“ssssutt. Sekarang kebahagianku adalah dirimu. Jadi bila kau
melarang. Aku tak apa meninggalkan semuanya”
“tapi appamu akan kecewa padamu. Aku tak mau dicap oleh orang tua
orang yang aku cintai sebagai perusak hubungan keluarganya. Kau juga sekarang
harus belajar mencintai Hyomin sunbae. Aku hanya berharap kau akan bahagia
dalam keadaan apapun. Selalu sehat. Memiliki keluarga yang utuh. Aku tak akan
berharap jika aku akan memilikimu selamanya. Selama ini aku sudah cukup
bahagia, sempat memilikimu, oppa”
“tapi itu sulit Kyung-ah. Dulu saja kau lihat sendirikan keadaanku
setelah mengetahui Hyomin selingkuh. Lalu apa kau tega melihatku seperti itu
lagi ? Hyomin memang mengatakan ia menyesal dan masih mencintaiku. Tapi
chagi-ya aku sekarang hanya mencintaimu” kurasa sekarang air mataku ikut turun
melewati pipiku.
“kau dulu pernah mencintai Hyomin sunbaekan oppa. Jadi itu akan
memudahkanmu melupakanmu. Ingatlah dengan appamu, ia telah membesarkanmu dengan
kasih sayang, jadi sekarang kau harus mengikuti perkataannya. Itu yang terbaik
untukmu oppa. Ohya, oppa aku akan ke Jerman setelah upacara kelulusan. Kau mau
datangkan ke acara kelulusanku. Hari sabtu ini eoh ?”
“ne, oppa pasti akan datang chagi-ya. Kau yakin akan ke Jerman”
“ne. Aku sebenarnya ingin meminta izin denganmu untuk pergi”
“baiklah. Kalau begitu aku ingin kau menghabiskan waktumu selama di
korea bersama oppa. Kau akan berangkat kapan eoh ?”
“awal bulan depan hari minggu”
“kalau begitu selama 3 minggu oppa akan menginap disini”
“lalu bagaimana dengan Hyomin sunbae” bagaimanapun ia sekarang
lebih berhak atas Donghae oppa dari pada aku.
“nanti oppa yang bicara dengannya. Kau tenang saja”
“boleh aku saja yang bicara dengannya oppa. Aku ingin bicara
sendiri dengan calon istrimu itu”
“kau yakin oppa tak mau kau terluka lebih dalam dari ini chagi-ya.
Oppa sudah terlalu melukaimu”
“tak apa oppa. Kau saja tak tahukan apa yang akan ku bicara dengan
Hyomin sunbae ?”
“ya sudah kalau begitu. Sudah jangan menangis lagi eoh ?” Donghae
oppa benar-benar berbeda. Ia mengusap bekas lelehan airmataku.
“ne oppa. Kan sudah aku bilang. Jika kau bahagia aku ikut bahagia.
Kalau kau menangis, aku akan ikut menangis”
“maafkan oppa yang sudah mengacuhkanmu selama ini”
“sudah oppa, tak usah dibahs lagi. Oppa aku ingin jalan-jalan ke
lotte world. Oppa mau kan menemaniku kesana ?”
“bukan hari ini chagi-ya. Sekarang oppa akan ke kantor dan pulang
malam. Besok pagi-pagi oppa akan membawa beberapa barang oppa kesini. Oppa akan
menemani selama kau di korea. Dan oppa akan absen dari kantor. Jadi besok saja
eoh ?”
“baiklah kalau begitu. Oh ya oppa. Aku sampai lupa tidak
membuatkanmu minum. Kan biasanya kau ambil sendiri oppa”
“tak usah. Oppa harus kekantor sekarang.”
“ya sudah. Kalau begitu hati-hati”
Kamipun melangkah menuju pintu.
Sampai dipintu tiba-biba Donghae oppa berbalik. Ia medekatkan dirinya denganku.
Aku kira ia akan memelukku lagi. Tapi ternyata ia meraih tengkuk dan
pinggangku. Ia mencium bibirku dan melumat bibirku pelan. Tak lama memang, ia
melepaskan tautan kami.
“gomawo. Anyeong chagi-ya” ucapnya sambil berlalu. Dia tersenyum
sambil melambaikan tangan kanannya
“n.ne anyeong oppa”
Setelah Donghae oppa tak terlihat
diujung lorong. Aku masuk dan menutup pintu. Aku memegangi bibirku. Fisrt
kissku. Donghae oppa. Aku rasa jika seperti ini aku juga akan sulit
melupakannya. Terserahlah setidaknya 3 minggu kedepan ia ada disampingku.
Walaupun setelah itu kami akan terpisahkan selamanya mungkin.
________________________________
Hari upacara kelulusan
Donghae oppa
menepati janjinya padaku ia tinggal di apartemenku. Ia menemaniku kemanapun aku
mau. Dan rencananya aku ingin pulang ke Cheonan dengan Donghae oppa besok. Aku
ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang yang aku cintai. Aku akan kembali
ke seoul 3 hari sebelum aku berangkat. Dan apartemen yang ada di seoul akan
digunakan adikku.
Dan hari ini
adalah acara kelulusan. Aku sekarang berada di kampus. Ku edarkan matamu
menelisik ke sekelilingku. Teman-temanku berfoto bersama dengan keluarga dan
teman masing-masing. Saat ini aku sedang bersama Min young dan Eun Mi. Kami
sedang berbincang-bincang tentang rencana kami masing-masing ke depan. Aku rasa
ada yang menepuk pundakku lembut. Ku balikkan tubuhku. Kalian tahu, kudapati
Donghae Oppa sedang tersenyum membawa sebuket bunga mawar putih kesukaanku dengan
Eun Hwa. Jadi ia pergi tadi malam ke Cheonan. Pasti ia sangat lelah. Ku terima
bunga mawarnya. Namun tiba-tiba ia memelukku. Lagi-lagi didepan umum. Beberapa
temanku menatap kearah kami. Aissh, aku malu.
“chukae chagi-ya sekarang kau sudah lulus. Maaf aku hanya bisa
membawa Eun Hwa saja karena orang tuamu sedang bekerja”
“gomawo oppa. Aku senang tapi bisakah kau melepaskan pelukanmu. Aku
malu oppa”
“aish, baiklah. Ayo sekarang saatnya berfoto-foto ria”. Donghae
oppa mengeluarkan kamera digitalnya. Kami berfoto bersama aku, eunhwa dan
Donghae oppa. Setelah puas kami melihat hasil foto-foto tadi. Jujur tadi ada
satu foto yang cukup menurutku memalukan. Donghae oppa tiba-tiba menciumku
tepat dibibirku dan dihadapan teman-temanku.
“oppa, nanti fotonya dicetak masing-masing 2 ya. Untukmu satu dan
untukku satu”
“ne chagi-ya”
“oh ya eonni. Tadi pagi eomma menyuruhku membawakan ini untuk
eonni” eunhwa menyerahkan rantan. Emb, pasti makanan favoriteku Japchae. Ah,
eomma gomawo
“ne saeng. Gomawo”
“kajja kita pulang. Kita rayakan kelulusanmu dan lusa kita
berangkat ke Cheonan”
“ne oppa. Kajja Eun hwa”
“ne eonni”
_______________
Hari terakhirku di Cheonan, aku
mengajak Donghae oppa hiking ke pegunungan yang tak jauh dari desa tempatku
sekarang tinggal. Dan disinilah kami. Kami duduk di atas tebing yang tak
terlalu tinggi. Kami duduk diatas batu besar. Udara disini sangat segar. Mungkin
disinilah kami akan berakhir. Aku bersandar dibahu Donghae oppa, dan ia memeluk
pinggangku dari samping. Dari ketinggian daratan dibawah sana terlihat kecil.
Dari tadi kami hanya diam tanpa ada yang berniat untuk membuka percakapan.
“oppa” aku harus mengatakannya sekarang. Agar aku tak merasa lebih
memilikinya lagi.
“emb, wae ?”
“oppa. Kita sampai sini saja. Setelah aku pergi ke Jerman kau harus
hidup lebih baik lagi walau tanpaku. Maaf jika selama ini sikapku
kekanak-kanakan. Maaf jika aku membuatmu lelah. Dan juga maaf jika aku kurang
bisa mengerti dirimu”
“ne. Aku juga. Aku sebenarnya harus meminta maaf padamu. Kau pasti
sangat tersiksa saat bersamaku. Chagi-ya aku ingin kau tidak menangis lagi.
Karena apapun. Kau pantas mendapatkan namja yang lebih baik dariku. Yang tulus
mencintaimu. Terima kasih karena kau mau untuk setidaknya memberiku waktu untuk
menebus kesalahanku. Walau aku tahu ini takkan sebanding”
“oppa, setelah kembali ke seoul aku rela melepasmu sepenuhnya.
Sekarang sudah sore ayo turun. Nanti malam kita harus bergegas oppa”
“ne kajja”
________________________
“eomma kami pergi dulu. Anyeong”
“ne, hati-hati. Baik-baik di sana. Kau juga Eunhwa”
“ne eomma” jawab Eunhwa. Kami berpelukan kepada eomma dan appa.
“Kyung-ah. Disana kau harus jaga kesehatan dan ingat jangan keluar
malam. Jerman adalah negara yang asing. Kau tak tahu siapapun disana” nesehat
appa
“ne appa”
Kamipun pergi ke
Seoul. Selama perjalanan tidak ada yang membuka percakapan. Eunhwa tidur di
belakang. Donghae oppa fokus menyetir dan aku hanya melihat jalanan yang gelap
gulita. Aku sebenarnya tidak ingin melepas ia begitu saja. Apalagi ia bilang
bahwa ia mencintaiku juga. Tapi jika perusahaannya yang menjadi taruhan apa
boleh buat.
“sudah sampai chagi-ya”
“ne gomawo oppa tolong bawakan barang-barang aku akan membangunkan
Eunhwa dulu”
“baiklah”
_________________________________
Di aparteman
“chagi-ya aku pulang. Aku akan mengantarmu ke bandara lusa ne”
donghae oppa mengusap kepalaku. Lembut. Yang mungkin takkan pernah kurasakan
lagi.
“ne, kurasa cukup sampai disini terima kasih oppa” ku bungkukkan
badanku sedikit mengahadapnya
“terima kasih telah mengenalkanku cinta yang sebenarnya chagi-ya”
“ne oppa” donghae oppa menarik tubuhku. Memeluknya dalam
kehangatan. Akan aku simpan baik-baik kenangan ini oppa. Donghae oppa
melonggarkan sedikit pelukannya. Ia menunduk. Dapatku lihat manik-manik matanya
yang kecoklatan. Ia tersenyum. Nafasnya menerpa wajahku. Donghae oppa
memejamkan matanya. CUP. Hanya menempel. Namun cukup lama sekitar 2 menit.
“terima kasih mungkin ini yang terakhir. Aku pulang. Chagi-ya”
Aku tersenyum kali
ini aku mengantarnya sampai aku benar-benar tak melihat mobilnya tak dapat
kulihat. Aku masuk kedalam menuju lift kemudian ku tekan tombol 8. Dalam lift
air mataku mengalir. Senyumnya. Hangatnya pelukannya. Sikapnya. Aku selalu
mencintaimu Lee Dong Hae.
_________________________________
Keesokan hari
Heaven cafe.
“mian Jikyung-ssi. Kau pasti menunggu lama” sudah lama aku tak
melihatnya. Ia tetap cantik. Ia memang lebih pantas dengan Donghae oppa
daripada aku. Ia duduk dihadapanku. Hyomin sunbae.
“ah aniyo sunbae. Ohya selamat kudengar 3minggu lagi kau akan
bertunangan dengan Donghae oppa”
Kuulurakan tanganku. Ia menjabatnya, kemudian tersenyum tulus.
“ne gomawo. Mian, karena aku kau-“
“tak apa. Lebih baik sunbae pesan minuman saja dulu. Aku tak ingin
bicara terlalu tegang denganmu sunbae”
“permisi”
“ne nona. Ada apa ?” seorang pelayan mendekati kami
“cappucino saja”
“kalau begitu tunggu sebentar”
“ne”
Setelah pelayan itu pergi kami hanya diam. Aku sesekali menyesap
hot chocolate-ku. Sedangkan hyomin sunbae sibuk dengan ponselnya. Entahlah, aku
tak tahu ia sedang apa.
“nona ini pesanannya. Selamat dinikmati”
“ne gomawo” Hyomin sunbae meminum sedikit cappucinonya. Kutunggu
sebentar. Aku berdehem.
“sunbae sebenarnya aku hanya ingin kau berjanji satu hal padamu.
Aku ingin kau membuat Donghae oppa tersenyum bahagia itu saja. Aku akan pergi
ke Jerman, jadi kau tak usah khawatir kalau aku akan mengganggu hubunganmu
dengan Donghae oppa. Kau tahukan aku menyukai Donghae oppa sejak aku masuk di
universitas dulu. Jadi kuharap kau mau melakukan itu untukku. Kuserahkan
Donghae oppa kepadamu. Kuharap kalian bahagia. Aku permisi dulu”
Setelah mengucapkan serentetan
kalimat tadi aku pergi keluar meninggalkan cafe. Aku tak kuat untuk menahan air
mata. Bagaimanapun juga ia adalah orang yang akan memilikinya seutuhnya. Aku
takkan kuat berlama-lama menatapnya ia begitu sempurna dibanding aku. Kulihat
jam tangan masih jam 10 pagi lewat beberapa menit. Penerbanganku nanti siang
jam 1 siang. Aku memang memajukan jadwal keberangkatanku. Jika Donghae oppa
yang mengantarku aku bisa saja membatalkan niatku untuk pergi. Karena aku
terlalu mencintainya. Sebaiknya aku pulang saja.
Sesampainya dirumah aku masuk kamar.
Barangku sudah kukemasi dalam satu koper besar. Menulis surat untuknya
menurutku lebih baik daripada memberinya pesan singkat langsung dariku. Karena
kuputuskan untuk berhenti berhubungan dengannya. Setelah selesai aku keluar
kamar ku dapati Eunhwa sedang nonton tv.
“eunhwa-ya”
“ne eonni waeyo ?”
“serahkan ini pada Donghae Oppa jika
ia besok datang kemari, tapi jika tidak datang simpan saja surat itu. Berikan saja
jika ia meminta kabar tentangku”
“ne eonni. Tapi eonni yakin. Aku
rasa Donghae oppa akan sedih bila ia tahu eonni pergi tanpa pamit langsung
dengannya”
“ini lebih baik Eunhwa-ya. Kalau
begitu hati-hati disini. Jaga dirimu eoh ?”
“eonni juga. Hati-hati ya”
“ne”
kuseret koperku. Aku menyetop taxi untuk menuju bandara.
_____________________________
Pesawat
Aku duduk dipojok
belakang pesawat. Mataku melihat kebawah lewat jendela. Kukeluarkan ponselku.
Kupandangi screen saver ponselku. Aku tersenyum samar. Airmataku jatuh. Aku
harap keputusanku ini tepat. Ini semua karena aku mencintaimu oppa. Aku selalu
mencintaimu. Apapun untukmu tersenyum. Foto saat aku wisuda. Foto saat ia
mataku melotot kaget karena ia cium secara mendadak. Yah setidaknya sebelum aku
pergi aku memiliki segelintir rasa bahagia. Walau ia ditakdirkan bukan untukku.
______________________________
To : Donghae oppa
Anyeong oppa. Maaf
aku merubah jadwal keberangkatanku. Aku tak ingin kau mengantaku pergi karena
aku takut, jika tiba-tiba hati yang memegang kendali tubuhku dan aku
membatalkan keberangkatanku. Oppa, satu hal yang harus kau tahu aku selalu
mencintaimu. Do’aku selalu untukmu. Kau sudah berjanji padaku akan hidup lebih
baik tanpaku bukan ? jadi aku harap kau menepati janjimu itu. Kurasa Hyomin
sunbae tak seburuk yang ada difikiranmu oppa. Aku telah menyerahkanmu padanya.
Aku harap kau bahagia dengannya. Ia yeoja yang baik dan 100 kali lebih baik
dariku. Saat akan menikah nanti kuharap kau mau memberi tahuku. Akan ku
usahakan untuk datang.
Oppa jaga selalu
kesehatanmu. Aku sudah tak bisa mengantarkan makan siang lagi kekantormu, jadi
aku harap oppa tetap makan siang walau oppa tidak suka makanan luar. Oppa juga
jangan terlalu banyak makan makanan cepat saji itu tak baik untukmu.
Kurasa hanya ini
yang dapat aku katakan untukmu oppa. Sekali lagi maaf jika ini mengagetkanmu.
Oppa tak perlu khawatir aku akan baik-baik saja disana.
My last love
No comments:
Post a Comment