Tuesday, April 30, 2013

I Love You A Thousand Times [Oneshoot]/Lee Donghae


Title                 : i love you a thousand times
Cast                 : Lee Donghae, Lee Ji Kyung
Sub cast           : Ahn Hyomin, Lee Eunhwa,  and other cast
Author             : K. Fortuna
Leght               : oneshoot
Rate                 : PG-15 (Maybe)
Genre              : AU, angst(maksa)
Disclaimer       : author ini author amatir, baru mencoba-coba terjun ke dunia per-FF-an. Cerita ini milik author. Maaf kalau banyak typo(s), dan kata-kata yang kurang berkenan dihati reader.
Nb                   : author gak maksa buat RCL, seikhlasnya saja dan kalau mau re-post boleh tapi nama authornya gak boleh diganti.  Walau ini adalah FF kedua yang berhasil author selesaikan.
            Ji  kyung POV
“ oppa, bisakah kita bertemu,, hari ini aku sangat rindu padamu.. aku kekantor ya” ucapku sediit manja. Kenapa ? karena namjachingu-ku ini sangat ku menyebalkan jika sudaah berurusan dengan kerjaan. Sebegitu gila kerjakah dia ?
“mian ji-kyung ah hari ini oppa ada meeting dengan invertor dari jepang nanti malam saja oppa kerumahmu eoh ?”
“ah, baiklah. Kalau begitu oppa jangan lupa makan, sebentar lagi jam makan siang. Anyeong”
“ne, anyeong” PIP
Selalu seperti ini. Aku merasa bahwa ia hanya menganggapku teman atau dongsaenng saja tak lebih. Kadang aku memang merasa lelah jika harus terus menerus seperti ini. Huff.... selalu saja seperti ini. Sampai kapan kau berada dalam bayang-bayangnya oppa?
Dari pada bosan lebih baik aku keluar saja. Jalan-jalan tak cukup buruk untuk menghabiskan libur panjang kuliah tahun ini. Ku ambil syal putih pemberian donghae oppa. Ku ambil kunci mobil, tas kucek isinya dompet handphone kartu credit. Baiklah kurasa kebioskop seorang diri tak terlalu buruk.
Huff, sabar ji-kyung. Aigoo kenapa disini rata-rata atau malah bisa dibilang semuanya adalah pasangan kekasih. Huff....lagi-lagi aku mendesah sebal. Tiba-tiba aku teringat kejadian itu 2 tahun yang lalu...
_____________back
“ji-kyung ah. Aku minta maaf padamu. Jeongmal mian. Aku baru tahu bagaimana rasanya ditinggal orang ynag kita sayang. Maafkan aku” ucap donghae sunbaenim padaku ditaman kampus yang sangat sepi
“maksudmu apa sunbae ? malhaebwa” ucapku sedikit terkejut bukankah dongahe sunbaenim dan hyomin sunbaenim adalah pasangan paling awet. Walaupun banyak yang mengejar salah satu diantara mereka _termasuk aku_tapi mereka selalu saja lengket.
“hyomin pergi. Dia selingkuh. Dan dia sekarang berada di jepang.. bukankah ini sangat mengejutkan, selingkuh kemudian pergi. Apakah kau sesakit ini saat ku bentak. Haaah pasti lebih sakit dari ini. Bukankah begitu ?” ucapnya sambil tersenyum miris.
“apakah aku boleh menggantikannya. Setidaknya aku ingin menemanimu saja. Aku yakin kau pasti sedang kacau. Sunbae bukankah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kalau kau mau aku memaafkanmu maka ijinkan aku menjagamu. Ayolah sunbae, yah ?”
“tapi aku masih sangat mencintainya. Kau hanya akan sakit saja bisa begitu. Aku hanya ingin meminta maaf padamu karena dulu aku pernah mengatakan bahwa kau wanita murahan. Bukannya sekarang hyomin sendiri yang aku bandingkan denganmu lebih murahan”
“sunbae. Tak apa. Aku tetap mencintaimu. Aku tulus. Kau tak apa bila masih mencintanya, ku bisa menunggu. Akan berusaha membuatmu mencintaiku tapi aku tak akan memaksamu mencintaku” ucapku  yakin. Walau sakit bukankah itu bisa. Aku kadang melihatnya sedang berciuman dengan hyomin sunbaenim
“gomawo kau tulus mencintaiku. Tapi ji-kyung ah... aku tak yakin bisa cepat mencintaimu” ucapnya pelan
“tak apa oppa. Eh maksudku sunbae” babo ji-kyung kenapa kau salah bicara tapi tak apa. Bukankah sekarang bisa dibilang kau adalah yeojyachingunya
“ku rasa itu lebih baik ji-ah”
____________________________________
Dan sampai saat ini juga aku merasa demikian. Harus ku akui bahwa aku sebenarnya sudah lelah membuatnya mencintaiku. Tapi aku juga tidak mau ia merasa aku memaksanya untuk mencintaiku. Seperti halnya dulu aku hanya ingin hatinya tenang dan damai. Menjaganya untuk tetap tersenyum. Hal yang baru aku sadari apa tujuan mencintai seseorang yang begitu berarti.
“agasshi. Mian filmnya sudah selesai dan semua penonton diharap keluar”.
“eh. Nde mian tuan”
Setelah keluar aku melirik jam tangan berwarna silver di lengan kiriku. Baru jam 3 sore. Sebaiknya aku membeli bahan makanan untuk minggu depan. Hufff...... baiklah Lee Ji Kyung kembalilah kedirimu sendiri. Ini bukan dirimu. Ayolah kau asudah biasa seperti ini. Berpikir positif Ji Kyung. Hari ini akan baik-baik saja...
______________________________________
Sayur sudah, susu, buah apel, anggur, pear, jeruk cukup, daging juga sudah.... beli sedikit cemilan ah.....  setelah kurasa cukup, aku berjalan menuju kasir. Setelah membayar semuanya aku berjalan hendak pulang. Saat aku melewati sebuah restoran jepang mataku tak sengaja menagkap bayangan seorang namja.  Lee donghae. Ia sedang bersama seorang yeoja. Mereka seperti tidak membicarakan urusan kantor. Bagaimana mungkin ada urusan kantor yang dibicarakan sambil tertawa. Ji kyung lebih baik kau segera pergi dari sini eoh.
__________________________
Setelah kejadian aku melihatnya di restoran jepang itu aku tak pernah berusaha menghubunginya. Biar ia sendiri yang menyadari perbuatannya dan meminta maaf padaku. Tapi setelah aku menunggu 3 minggu, ia tak kunjung menyadarinya. Menghubungiku lewat pesan singkat saja tidak, apalagi menemuiku. Apa ada atau tidaknya aku dikehidupannya memang tak berarti.
Aku diberitahu oleh pihak universitas aku mendapat kesempatan melanjutkan belajarku di Jerman, setelah aku lulus S1 disini. Aku sudah menghubungi keluargaku yang ada di Cheonan. Mereka setuju, tapi mereka tak akan memaksaku jika aku tak mau. Sebenarnya aku ingin pergi, tapi bila Donghae oppa melarang aku tak akan pergi. Tapi apa ia bahkan tak menghubungiku selama 3 minggu ini. Aku juga mendapat tawaran kerja disalh satu majalah ternama sebagai Jurnalis. Apakah aku ambil saja ya beasiswa ke Jerman. Tapi kalau aku ambil aku akan meninggalkan Korea awal bulan depan, itu artinya 3 minggu lagi. Dan ada waktu istirahat 2minggu, karena acara wisuda seminggu lagi. Aigoo aku makin pusing. Ah, lebih baik tidur siang saja. Sehabis kuliah capek banget.
_____________________
saranghae cheonbeoneul haedo tto haejugo sipeun mal
nae simjangeul ttwige haejuneun mal
            ‘aigoo, siapa sih. Mengganggu orang saja. Ponsel ku dimana ya’. Gumamku dalam hati. Tanganku meraba-raba laci kecil disamping tempat tidur. Ah, ini dia. Kutekan tombol hijau tanpa kuliat siapa penelponya.
“yeoboseyeo”
“Kyung-ah. Bisakah kita bertemu” suara ini. Oh, Donghae oppa. Ia seperti ragu saat mengucapkannya.
“ne. Oppa datang saja ke apartemenku. Aku juga ada yang ingin ku bicarakan”
“baiklah, sekarang kau tunggu oppa di apartemenmu”
“ne. Hati-hati saat menyetir oppa. Anyeong”
“ne. Anyeong”
__________________
15 menit kemudian
Ting tong
Ting tong
            Ah, itu pasti Donghae oppa.
Cekleek
“Ji-kyung-ah” ucap Donghae oppa sambil memelukku tiba-tiba. Ada apa dengannya aneh.
“oppa masuk dulu. Lepaskan. Tidak enak dilihat tetangga”
“ne. Baiklah, kajja” Donghae oppa melepaskan pelukkannya, ia mengandeng tanganku lembut. Ia tak pernah bersikap seperti ini kepadaku. Apa ia sakit ? molla.
            Kami duduk disofa ruang tengah dekat dapur. Aku lihat ia gelisah. Matanya bergerak-gerak tak karuan tapi ia tetap duduk dengan tenang. Ku genggang tangan kirinya. Ia menoleh cepat kearahku. Aku tersenyum. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Ada yang ingin ia sampaikan padaku, tapi kulihat ia ragu. Ku pikir ini adalah sesuatu yang buruk, tapi jika ini yang terbaik untukmu. Apapun itu Hae oppa.
“ada apa oppa. Katakanlah, tadi kau bilang ada yang ingin kau katakan denganku” aku mencoba untuk meyakinkannya. Aku tersenyum. Dengan tangannya yang masih kugenggang.
“kemungkinan besar kita tidak akan bersama lagi Kyung-ah” donghae oppa menunduk. Tak biasanya ia seperti ini. Dan bukankah ia bilang akan berusaha mencintaiku. Kenapa sekarang ia menyerah ditengah jalan. Aku tahu sampai sekarang ia belum juga mencintaiku tapi kenapa ?
“oppa. Wae ? oppa, hari kau aneh sekali. Kau selama 3 minggu ini tak menghubungiku. Tiba-tiba kau ingin bertemu dan langsung memelukku. Sekarang kau mengatakan tak bisa bersamaku. Ada apa oppa ??” aku tak mau terbawa emosi. Aku tak mau menangis sekarang. Walau ini bisa termasuk bencana untukku. Orang yang tak mudah untukku dapatkan.
“perusahaan uri appa mengalami masalah keuangan. Karena itu ia meminta bantuan kepada temannya untuk menginvestasikan uangnya. Ia mau menginvestasikan sebesar 10 miliyar won keperusahaan appa. Tapi ia menawarkan syarat untuk menjodohkanku dengan putrinya. Kalau dalam bulan ini, perusahaan appa tidak ada investor yang mempercayakan uangnya, appa akan gulung tikar. Tapi masalahnya, putrinya itu adalah Hyomin” ia meraih kelapaku ia sandarkan kedadanya. Jujur jika yeoja itu Hyomin sunbae aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku akan kalah telak olehnya. Donghae oppa mengusap pelan kepalaku. Oppa aku ingin menangis. Aku takkan kuat.
“kyung-ah, jujur awalnya oppa sangat senang pada akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya. Aku kira rasa sayangku padamu hanya sebatas oppa ke dongsaengnya saja. Oleh karena itu oppa tak ingin kau terluka jadi oppa sembunyikan ini darimu. Oppa tahu kau selalu mencintai oppa. Mengutamakan kebahagiaan oppa, daripada kebahagiaanmu” ia berhenti. Mengambil nafas sejenak. Suaranya sedikit serak.
“akhir-akhir ini oppa selalu memimpikanmu. Dimimpiku kau memakai baju putih sangat anggun. Dalam mimpiku saat kita ada pantai kau tenggelam bersama ombak. Ditepi jurang, tiba-tiba kau terjatuh dan kau hilang. Saat berada di lembah yang sejuk dan penuh dengan bunga dan ilalang tiba-tiba ada angin yang membawamu pergi. Bahkan tadi malam dalam mimpiku. Aku denganmu sedang duduk di kursi. Kau bersandar dibahuku. Tempat itu putih semua. Namun tiba-tiba kau bangkit dan kau mengucapkan selamat tinggal dan menjaga kesahatanku. Kemudian ada cahaya putih terang mengelilingimu dan menghilang bersama dirimu yang tersenyum” apakah ini memang takdirku. Jauh darinya dan takkan memilikinya.
“aku terbangun pukul 5 pagi. Aku merenung. Sampai akhirnya aku sadar. Kyung-ah aku mencintaimu. Aku terbiasa dengan kehadiranmu. Aku ingin kau selalu bersamaku. Kenapa aku baru menyadarinya. Aku takkan bisa tersenyum tanpamu. Aku takut kau pergi Kyung-ah. Seandainya aku bisa setidaknya aku ingin bersikap baik padamu. Tak mengangacuhkanmu. Setidaknya 2 tahun kau bisa merasakan benar-benar memiliki seorang namjachingu. Mianhe chagi-ya” aku rasa rambutku basah. Donghae oppa menangis untukku. Aku bahagia, tapi aku lebih bahagia ia tersenyum walau aku sakit, daripada ia merasa tersakiti seperti ini.
“oppa. Aku bahagia, bahkan sangat bahagia karena kau mencintaiku. Tapi oppa kau harus menjadi anak yang berbakti. Kau harus mengikuti keinginan orang tuamu. Aku akan lebih bahagia lagi jika kau bahagia oppa”
“chagi-ya apa maksudmu ?”
“aku tak apa jika kau dijodohkan dengan Hyomin sunbae, karena oppa pasti bahagia bila bersamanya. Dan-“
“ssssutt. Sekarang kebahagianku adalah dirimu. Jadi bila kau melarang. Aku tak apa meninggalkan semuanya”
“tapi appamu akan kecewa padamu. Aku tak mau dicap oleh orang tua orang yang aku cintai sebagai perusak hubungan keluarganya. Kau juga sekarang harus belajar mencintai Hyomin sunbae. Aku hanya berharap kau akan bahagia dalam keadaan apapun. Selalu sehat. Memiliki keluarga yang utuh. Aku tak akan berharap jika aku akan memilikimu selamanya. Selama ini aku sudah cukup bahagia, sempat memilikimu, oppa”
“tapi itu sulit Kyung-ah. Dulu saja kau lihat sendirikan keadaanku setelah mengetahui Hyomin selingkuh. Lalu apa kau tega melihatku seperti itu lagi ? Hyomin memang mengatakan ia menyesal dan masih mencintaiku. Tapi chagi-ya aku sekarang hanya mencintaimu” kurasa sekarang air mataku ikut turun melewati pipiku.
“kau dulu pernah mencintai Hyomin sunbaekan oppa. Jadi itu akan memudahkanmu melupakanmu. Ingatlah dengan appamu, ia telah membesarkanmu dengan kasih sayang, jadi sekarang kau harus mengikuti perkataannya. Itu yang terbaik untukmu oppa. Ohya, oppa aku akan ke Jerman setelah upacara kelulusan. Kau mau datangkan ke acara kelulusanku. Hari sabtu ini eoh ?”
“ne, oppa pasti akan datang chagi-ya. Kau yakin akan ke Jerman”
“ne. Aku sebenarnya ingin meminta izin denganmu untuk pergi”
“baiklah. Kalau begitu aku ingin kau menghabiskan waktumu selama di korea bersama oppa. Kau akan berangkat kapan eoh ?”
“awal bulan depan hari minggu”
“kalau begitu selama 3 minggu oppa akan menginap disini”
“lalu bagaimana dengan Hyomin sunbae” bagaimanapun ia sekarang lebih berhak atas Donghae oppa dari pada aku.
“nanti oppa yang bicara dengannya. Kau tenang saja”
“boleh aku saja yang bicara dengannya oppa. Aku ingin bicara sendiri dengan calon istrimu itu”
“kau yakin oppa tak mau kau terluka lebih dalam dari ini chagi-ya. Oppa sudah terlalu melukaimu”
“tak apa oppa. Kau saja tak tahukan apa yang akan ku bicara dengan Hyomin sunbae ?”
“ya sudah kalau begitu. Sudah jangan menangis lagi eoh ?” Donghae oppa benar-benar berbeda. Ia mengusap bekas lelehan airmataku.
“ne oppa. Kan sudah aku bilang. Jika kau bahagia aku ikut bahagia. Kalau kau menangis, aku akan ikut menangis”
“maafkan oppa yang sudah mengacuhkanmu selama ini”
“sudah oppa, tak usah dibahs lagi. Oppa aku ingin jalan-jalan ke lotte world. Oppa mau kan menemaniku kesana ?”
“bukan hari ini chagi-ya. Sekarang oppa akan ke kantor dan pulang malam. Besok pagi-pagi oppa akan membawa beberapa barang oppa kesini. Oppa akan menemani selama kau di korea. Dan oppa akan absen dari kantor. Jadi besok saja eoh ?”
“baiklah kalau begitu. Oh ya oppa. Aku sampai lupa tidak membuatkanmu minum. Kan biasanya kau ambil sendiri oppa”
“tak usah. Oppa harus kekantor sekarang.”
“ya sudah. Kalau begitu hati-hati”
Kamipun melangkah menuju pintu. Sampai dipintu tiba-biba Donghae oppa berbalik. Ia medekatkan dirinya denganku. Aku kira ia akan memelukku lagi. Tapi ternyata ia meraih tengkuk dan pinggangku. Ia mencium bibirku dan melumat bibirku pelan. Tak lama memang, ia melepaskan tautan kami.
“gomawo. Anyeong chagi-ya” ucapnya sambil berlalu. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya
“n.ne anyeong oppa”
Setelah Donghae oppa tak terlihat diujung lorong. Aku masuk dan menutup pintu. Aku memegangi bibirku. Fisrt kissku. Donghae oppa. Aku rasa jika seperti ini aku juga akan sulit melupakannya. Terserahlah setidaknya 3 minggu kedepan ia ada disampingku. Walaupun setelah itu kami akan terpisahkan selamanya mungkin.
________________________________
Hari upacara kelulusan
            Donghae oppa menepati janjinya padaku ia tinggal di apartemenku. Ia menemaniku kemanapun aku mau. Dan rencananya aku ingin pulang ke Cheonan dengan Donghae oppa besok. Aku ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang yang aku cintai. Aku akan kembali ke seoul 3 hari sebelum aku berangkat. Dan apartemen yang ada di seoul akan digunakan adikku.
            Dan hari ini adalah acara kelulusan. Aku sekarang berada di kampus. Ku edarkan matamu menelisik ke sekelilingku. Teman-temanku berfoto bersama dengan keluarga dan teman masing-masing. Saat ini aku sedang bersama Min young dan Eun Mi. Kami sedang berbincang-bincang tentang rencana kami masing-masing ke depan. Aku rasa ada yang menepuk pundakku lembut. Ku balikkan tubuhku. Kalian tahu, kudapati Donghae Oppa sedang tersenyum membawa sebuket bunga mawar putih kesukaanku dengan Eun Hwa. Jadi ia pergi tadi malam ke Cheonan. Pasti ia sangat lelah. Ku terima bunga mawarnya. Namun tiba-tiba ia memelukku. Lagi-lagi didepan umum. Beberapa temanku menatap kearah kami. Aissh, aku malu.
“chukae chagi-ya sekarang kau sudah lulus. Maaf aku hanya bisa membawa Eun Hwa saja karena orang tuamu sedang bekerja”
“gomawo oppa. Aku senang tapi bisakah kau melepaskan pelukanmu. Aku malu oppa”
“aish, baiklah. Ayo sekarang saatnya berfoto-foto ria”. Donghae oppa mengeluarkan kamera digitalnya. Kami berfoto bersama aku, eunhwa dan Donghae oppa. Setelah puas kami melihat hasil foto-foto tadi. Jujur tadi ada satu foto yang cukup menurutku memalukan. Donghae oppa tiba-tiba menciumku tepat dibibirku dan dihadapan teman-temanku.
“oppa, nanti fotonya dicetak masing-masing 2 ya. Untukmu satu dan untukku satu”
“ne chagi-ya”
“oh ya eonni. Tadi pagi eomma menyuruhku membawakan ini untuk eonni” eunhwa menyerahkan rantan. Emb, pasti makanan favoriteku Japchae. Ah, eomma gomawo
“ne saeng. Gomawo”
“kajja kita pulang. Kita rayakan kelulusanmu dan lusa kita berangkat ke Cheonan”
“ne oppa. Kajja Eun hwa”
“ne eonni”
_______________
Hari terakhirku di Cheonan, aku mengajak Donghae oppa hiking ke pegunungan yang tak jauh dari desa tempatku sekarang tinggal. Dan disinilah kami. Kami duduk di atas tebing yang tak terlalu tinggi. Kami duduk diatas batu besar. Udara disini sangat segar. Mungkin disinilah kami akan berakhir. Aku bersandar dibahu Donghae oppa, dan ia memeluk pinggangku dari samping. Dari ketinggian daratan dibawah sana terlihat kecil. Dari tadi kami hanya diam tanpa ada yang berniat untuk membuka percakapan.
“oppa” aku harus mengatakannya sekarang. Agar aku tak merasa lebih memilikinya lagi.
“emb, wae ?”
“oppa. Kita sampai sini saja. Setelah aku pergi ke Jerman kau harus hidup lebih baik lagi walau tanpaku. Maaf jika selama ini sikapku kekanak-kanakan. Maaf jika aku membuatmu lelah. Dan juga maaf jika aku kurang bisa mengerti dirimu”
“ne. Aku juga. Aku sebenarnya harus meminta maaf padamu. Kau pasti sangat tersiksa saat bersamaku. Chagi-ya aku ingin kau tidak menangis lagi. Karena apapun. Kau pantas mendapatkan namja yang lebih baik dariku. Yang tulus mencintaimu. Terima kasih karena kau mau untuk setidaknya memberiku waktu untuk menebus kesalahanku. Walau aku tahu ini takkan sebanding”
“oppa, setelah kembali ke seoul aku rela melepasmu sepenuhnya. Sekarang sudah sore ayo turun. Nanti malam kita harus bergegas oppa”
“ne kajja”
________________________
“eomma kami pergi dulu. Anyeong”
“ne, hati-hati. Baik-baik di sana. Kau juga Eunhwa”
“ne eomma” jawab Eunhwa. Kami berpelukan kepada eomma dan appa.
“Kyung-ah. Disana kau harus jaga kesehatan dan ingat jangan keluar malam. Jerman adalah negara yang asing. Kau tak tahu siapapun disana” nesehat appa
“ne appa”
            Kamipun pergi ke Seoul. Selama perjalanan tidak ada yang membuka percakapan. Eunhwa tidur di belakang. Donghae oppa fokus menyetir dan aku hanya melihat jalanan yang gelap gulita. Aku sebenarnya tidak ingin melepas ia begitu saja. Apalagi ia bilang bahwa ia mencintaiku juga. Tapi jika perusahaannya yang menjadi taruhan apa boleh buat.
“sudah sampai chagi-ya”
“ne gomawo oppa tolong bawakan barang-barang aku akan membangunkan Eunhwa dulu”
“baiklah”
_________________________________
Di aparteman
“chagi-ya aku pulang. Aku akan mengantarmu ke bandara lusa ne” donghae oppa mengusap kepalaku. Lembut. Yang mungkin takkan pernah kurasakan lagi.
“ne, kurasa cukup sampai disini terima kasih oppa” ku bungkukkan badanku sedikit mengahadapnya
“terima kasih telah mengenalkanku cinta yang sebenarnya chagi-ya”
“ne oppa” donghae oppa menarik tubuhku. Memeluknya dalam kehangatan. Akan aku simpan baik-baik kenangan ini oppa. Donghae oppa melonggarkan sedikit pelukannya. Ia menunduk. Dapatku lihat manik-manik matanya yang kecoklatan. Ia tersenyum. Nafasnya menerpa wajahku. Donghae oppa memejamkan matanya. CUP. Hanya menempel. Namun cukup lama sekitar 2 menit.
“terima kasih mungkin ini yang terakhir. Aku pulang. Chagi-ya”
            Aku tersenyum kali ini aku mengantarnya sampai aku benar-benar tak melihat mobilnya tak dapat kulihat. Aku masuk kedalam menuju lift kemudian ku tekan tombol 8. Dalam lift air mataku mengalir. Senyumnya. Hangatnya pelukannya. Sikapnya. Aku selalu mencintaimu Lee Dong Hae.
_________________________________
Keesokan hari
Heaven cafe.
“mian Jikyung-ssi. Kau pasti menunggu lama” sudah lama aku tak melihatnya. Ia tetap cantik. Ia memang lebih pantas dengan Donghae oppa daripada aku. Ia duduk dihadapanku. Hyomin sunbae.
“ah aniyo sunbae. Ohya selamat kudengar 3minggu lagi kau akan bertunangan dengan Donghae oppa”
Kuulurakan tanganku. Ia menjabatnya, kemudian tersenyum tulus.
“ne gomawo. Mian, karena aku kau-“
“tak apa. Lebih baik sunbae pesan minuman saja dulu. Aku tak ingin bicara terlalu tegang denganmu sunbae”
“permisi”
“ne nona. Ada apa ?” seorang pelayan mendekati kami
“cappucino saja”
“kalau begitu tunggu sebentar”
“ne”
Setelah pelayan itu pergi kami hanya diam. Aku sesekali menyesap hot chocolate-ku. Sedangkan hyomin sunbae sibuk dengan ponselnya. Entahlah, aku tak tahu ia sedang apa.
“nona ini pesanannya. Selamat dinikmati”
“ne gomawo” Hyomin sunbae meminum sedikit cappucinonya. Kutunggu sebentar. Aku berdehem.
“sunbae sebenarnya aku hanya ingin kau berjanji satu hal padamu. Aku ingin kau membuat Donghae oppa tersenyum bahagia itu saja. Aku akan pergi ke Jerman, jadi kau tak usah khawatir kalau aku akan mengganggu hubunganmu dengan Donghae oppa. Kau tahukan aku menyukai Donghae oppa sejak aku masuk di universitas dulu. Jadi kuharap kau mau melakukan itu untukku. Kuserahkan Donghae oppa kepadamu. Kuharap kalian bahagia. Aku permisi dulu”
Setelah mengucapkan serentetan kalimat tadi aku pergi keluar meninggalkan cafe. Aku tak kuat untuk menahan air mata. Bagaimanapun juga ia adalah orang yang akan memilikinya seutuhnya. Aku takkan kuat berlama-lama menatapnya ia begitu sempurna dibanding aku. Kulihat jam tangan masih jam 10 pagi lewat beberapa menit. Penerbanganku nanti siang jam 1 siang. Aku memang memajukan jadwal keberangkatanku. Jika Donghae oppa yang mengantarku aku bisa saja membatalkan niatku untuk pergi. Karena aku terlalu mencintainya. Sebaiknya aku pulang saja.
Sesampainya dirumah aku masuk kamar. Barangku sudah kukemasi dalam satu koper besar. Menulis surat untuknya menurutku lebih baik daripada memberinya pesan singkat langsung dariku. Karena kuputuskan untuk berhenti berhubungan dengannya. Setelah selesai aku keluar kamar ku dapati Eunhwa sedang nonton tv.
“eunhwa-ya”
“ne eonni waeyo ?”
“serahkan ini pada Donghae Oppa jika ia besok datang kemari, tapi jika tidak datang simpan saja surat itu. Berikan saja jika ia meminta kabar tentangku”
“ne eonni. Tapi eonni yakin. Aku rasa Donghae oppa akan sedih bila ia tahu eonni pergi tanpa pamit langsung dengannya”
“ini lebih baik Eunhwa-ya. Kalau begitu hati-hati disini. Jaga dirimu eoh ?”
“eonni juga. Hati-hati ya”
“ne”  kuseret koperku. Aku menyetop taxi untuk menuju bandara.
_____________________________
Pesawat
            Aku duduk dipojok belakang pesawat. Mataku melihat kebawah lewat jendela. Kukeluarkan ponselku. Kupandangi screen saver ponselku. Aku tersenyum samar. Airmataku jatuh. Aku harap keputusanku ini tepat. Ini semua karena aku mencintaimu oppa. Aku selalu mencintaimu. Apapun untukmu tersenyum. Foto saat aku wisuda. Foto saat ia mataku melotot kaget karena ia cium secara mendadak. Yah setidaknya sebelum aku pergi aku memiliki segelintir rasa bahagia. Walau ia ditakdirkan bukan untukku.
______________________________
To        : Donghae oppa
            Anyeong oppa. Maaf aku merubah jadwal keberangkatanku. Aku tak ingin kau mengantaku pergi karena aku takut, jika tiba-tiba hati yang memegang kendali tubuhku dan aku membatalkan keberangkatanku. Oppa, satu hal yang harus kau tahu aku selalu mencintaimu. Do’aku selalu untukmu. Kau sudah berjanji padaku akan hidup lebih baik tanpaku bukan ? jadi aku harap kau menepati janjimu itu. Kurasa Hyomin sunbae tak seburuk yang ada difikiranmu oppa. Aku telah menyerahkanmu padanya. Aku harap kau bahagia dengannya. Ia yeoja yang baik dan 100 kali lebih baik dariku. Saat akan menikah nanti kuharap kau mau memberi tahuku. Akan ku usahakan untuk datang.
            Oppa jaga selalu kesehatanmu. Aku sudah tak bisa mengantarkan makan siang lagi kekantormu, jadi aku harap oppa tetap makan siang walau oppa tidak suka makanan luar. Oppa juga jangan terlalu banyak makan makanan cepat saji itu tak baik untukmu.
            Kurasa hanya ini yang dapat aku katakan untukmu oppa. Sekali lagi maaf jika ini mengagetkanmu. Oppa tak perlu khawatir aku akan baik-baik saja disana.          
My last love

No comments:

Post a Comment