Sunday, March 13, 2011

TQSD lirik (https://mirnarizka.wordpress.com/2010/02/23/lirik-lagu-the-great-queen-seondeok-transliterasi/)


Wind Flower
Wind Flower
Jika saat ini
Aku berpaling
Dan menghilang
Ku tahu ku takkan dapat mengembang
Jika selalu begini,
Menghela nafas setiap bertemu denganmu
Mungkin akan sangat baik jika ku dapat hidup sambil memejamkan mata
Meski tak berjumpa denganmu, aku dapat melihatmu
Meski suaramu tak terdengar, aku dapat mendengarmu
Layaknya kembang angin yang mekar oleh nafasmu
Ku berharap meraihmu, tapi tak dapat
Ku berharap memelukmu, tapi tak bisa
Ujung jemarimu telah menyentuh hatiku
Akankah kau tahu, setelah malam-malam berlalu?
Cinta ini tersenyum dalam airmata…
Ku berharap menangkapmu, tapi tak dapat
Ku berharap mencapaimu, tapi tak bisa
Layaknya kembang angin yang mekar dalam hatimu
Meski tak berjumpa denganmu, aku dapat melihatmu
Meski suaramu tak terdengar, aku dapat mendengarmu
Tertabur dalam angin
Menghambur menuju hatimu…
Can’t I Love You
Walau ini sungguh sangat menyakitkan, aku tak dapat lagi merasakannya
Walau aku menunggu dan kau tak kunjung datang
Walau aku memikirkanmu hingga gemetar, aku tak dapat lagi merasakannya
Semenjak hari dimana aku meletakkanmu dalam hatiku
Aku tak dapat meletakkan hatiku dimanapun lagi
Walaupun pedih dan remuk, hatiku takkan tertutup untukmu
Aku yang hidup dalam dunia sunyi
Kaulah satu-satunya yang membuatku tersenyum
Tak dapatkah aku mencintaimu? Bisakah kau datang padaku?
Sekali saja… sekali saja… dapatkah kau merangkulku?
Kaulah satu-satunya yang ku cinta
Dapatkah kau menerima hatiku?
Alasan mengapa aku masih bernafas dalam kesendirian ini
Semuanya karena mu
Tak dapatkah aku mencintaimu? Bisakah kau datang padaku?
Sekali lagi… sekali lagi… dapatkah kau memelukku?
Kaulah satu-satunya yang ku cinta
Sedari awal hingga akhir nanti
Meski kau hidup, kau tak terjangkau olehku
Meski kau menyingkirkanku jauh dari benakmu
Tak dapatkah aku mencintaimu? Meski dengan diam-diam…
Ku hanya dapat memandangmu dari jauh
Walau yang dapat ku naungi hanya bayangmu
Meskipun begitu, tak mengapa… meski hanya aku yang mencintaimu, tak apa-apa…



I Miss You
Aku bermimpi buruk
Setelah malam ini, aku takkan bertemu lagi denganmu
Jangan bersembunyi
Jika semua terasa berat, bersandarlah padaku
Hanya dirimu yang terlihat di mataku selama sekian lama
Setiap aku tertidur, aku merindukanmu
Selamanya aku akan mencintaimu
Hanya saat aku melihatmu, kutemukan cinta
Orang-orang hanya datang dan pergi
Tapi, aku kan selalu mengingat satu orang
Meski tak banyak waktu ku luangkan bersamamu
Kebahagiaanku selalu karena mu
Selamanya aku akan mencintaimu
Hanya saat aku melihatmu, kutemukan cinta
Orang-orang hanya datang dan pergi
Tapi, aku kan selalu mengingat satu orang
Meskipun kegelapan ada di hatiku
Tak dapat kulupakan tangis sedihmu
Meski aku tak dapat meraihmu, seorang yang ku cinta
Kan kuingat semua kenangan yang kita bagi bersama
Walau kau meninggalkanku, aku akan baik-baik saja
Kan kuingat, cinta dalam hidupku adalah dirimu
Jangan pernah lupa, Aku mencintaimu…
Bidam (Sad Story)
Aku dapat melihatnya, airmata yang kau sembunyikan
Walau kau berkata ‘tak ada masalah’, aku tahu
Ini sangat berat untukmu
Seorang sepertiku…
Terima kasih telah mencintaiku
Menangis dan ketakutan seorang diri
Aku menyesali kebodohanku
Apakah kau mendengar lagu ini?
Dapatkah kau dengar perasaanku?
Layaknya melangkah dan tak dapat berputar-balik
Betapa jauh jarak yang memisahkan
Aku mencintaimu, Aku akan mencintaimu selamanya
Aku akan selalu mengingatmu
Hingga kita bertemu di kehidupan selanjutnya
Jadi, aku takkan melupakanmu
Seorang seperti diriku
Terima kasih telah mencintaiku
Cinta kita memang tak ditakdirkan untuk bersama
Telah berlalu, jangan perjuangkan lagi…
The Only One
Kupejamkan mata dan mengingat saat-saat itu
Hatiku berkata pada angin beku
Bahwa ini bukan apa-apa
Takkan menyakitkan
Melakukan hal-hal demikian
Agar aku tetap hidup
Aku, seorang yang tak boleh mencintaimu
Tapi kau tertinggal di sayap hatiku
Meski seperti ini, tak mengapa
Tak mengapa, jika kau lupakan ku
Tapi, aku tak yakin dapat melupakanmu
Berusaha melupakan, melupakan hal yang merisaukan
Namun setelah sekian lama
Merindukan hati yang lugu ini
Aku belum dapat merelakannya
Di bawah surga, memperhatikan
Jalan dimana aku berdiri seorang diri
Merenungi rasa yang bukannya sirna justru semakin lekat
Kaulah satu-satunya
Berusaha melupakan, melupakan hal yang merisaukan
Namun setelah sekian lama
Merindukan hati yang lugu ini
Aku belum dapat merelakannya
Dan, setelah hari-hari pun berlalu, apakah akan terlupakan?
Apakah akan lebih mudah seperti itu?
Merenungi rasa yang bukannya sirna justru semakin lekat
Kaulah satu-satunya
Kaulah satu-satunya

Puisi tugas indonesia (http://www.puisikita.co.cc/2010/05/puisi-alam.html)

ANGIN LAUT
Kuntowijoyo

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.


LAUT
Kuntowijoyo

Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.
Saksikanlah.
Tidak ada batasnya bukan?



LAUT YANG RAMAI
Ayi Jufridar

Laut mendadak ramai
deburan ombak terseret angin
ke tengah samudera itu
sedang di bibir pantai
orang saja menari-nari

Laut mengundang sehamparan gunung samudera
datanglah dari penjuru segala
melihat kami menari
menjelang akhir sodorkan air
ketika tubuh bermandi peluh
tapi jangan suguhkan seudati*)
sebab ia sudah mati

Datang,
datanglah dari penjuru segala
ramaikan laut kami yang sepi
dengan lagumu yang sarat cinta


Lhokseumawe, Juni 2005

*) nama tarian terkenal Aceh



PEMANDANGAN DI QUE-LIN
Husseyn Umar

gunung-gunung dan bukit-bukit hitam
tinggi dan tajam
menjulang menusuk-nusuk awan

air sungai Li berkelok-kelok
bermain-main di celah kaki-kakinya

bilakah sebenarnya
dewa-dewa telah turun dari langit
sempat-sempatnya membuat
pahatan alam yang begini cantik!

1994