1.
Title
: Darkness Story
2.
Author : K. Fortuna
3.
Casts : Marcus Cho, Michelle Park
and others
4.
Genre : AU, Fantasy, Mystery, Dark
etc
5.
Rated : PG 15
6.
Length : Dribble
7.
Disclaimer : this fanfiction real from my
imagination. No Bash and Copas
Story....................
Michelle POV
Kupijakkan untuk pertama kalinya
kakiku didunia yang baru kali ini kumasuki. Entah seperti apa dunia itu. Yang
jelas hutan Herotuz ini sangat gelap. Selain ranting pohon yang lebat dan
menutupi dunia ini, ku dengar bahwa dunia ini memang tidak bisa ditembus oleh
cahaya matahari. Bukankah cahaya matahari adalah sumber kehidupan. Tapi kenapa
mereka bisa bertahan tanpa cahaya matahari ? entahlah sekarang yang terpenting
bukan itu. ‘mianhada appa, eomma,... geu namja. Naneun jeongmal saranghanda’
ucapku dalam hati sambil memantapkan langkahku menuju ke tengah hutan ini.
Mencari pintu gerbang dunia yang baru sajaku masuki.
Kini aku sampai
didepan gapura berbentuk patung macan yang dimaksud oleh iblis itu. Ku genggang
cincin yang iblis itu pasangkan dijari manis kiriku secara paksa. Ku tatap
cincin itu lekat-lekat. Batu permata hitam itu semakin mengkilap.
Kuperhatikan
gapura itu kini lenyap dan samar-samar sebuah kastil dengan benteng nampak
jelas dimataku. Kudekati pintu utama kastil itu. Saat aku sudah dekat dengan
pintu itu, secara tiba-tiba ada angin yang cukup kencang dan bersamaan dengan
pintu kastil yang dibuka. Vewille sangat berbeda dengan Antermedria.
Duniaku.... dulu.
Saat aku baru
masuk, tiba-tiba ada yang mencengkram kedua bahuku kuat. Aku merasa mataku
berat dan tubuhku melayang ringan. Apapun Jaejoong-ah.....
___________________________________________________________________________
Kubuka mataku
perlahan.... kuedarkan mataku kepenjuru ruangan ini. ‘Seperti kastil Andgress
di Antermedria’ itulah kesan pertamaku pada ruangan ini. Aura diruangan ini
sangat mencekam. Kucoba mengerakkan tanganku untuk bangkit.
“aish, sial iblis itu pasti mengunciku dengan mantera” petikku
kesal.
“kau butuh ini... Michelle Park” ujar seorang namja ah,! Ani iblis
yang bernama Marcus yang datang tiba-tiba dan mengacungkan kalungku yang berada
digenggamannya.
“aku sudah datang dan mengembalikan cincinmu yang dulu direbut
appaku. Sekarang kau harus melepaskan Changmin dan aku akan... mengabdi padamu”
ujarku melemah pada akhir kalimat. Changmin-ah.. mian kau harus terlibat dalam
urusan ini. 2 dunia yang tak pernah bisa saling damai.
“kau tak usah menyesal dan meminta maaf pada siapapun Michelle
chagiya. Haha....” ucapnya dengan tawa iblis yang menggelegar di ruangan ini.
“aku hanya menjadi abdi disini. Bukan menjadi istrimu” ucapku
ketus. Ia seketika mendekat diranjang aku dibaringkan. Ia menghentikan tawa
iblisnya itu. Senyuman itu terlihat lagi. Senyum meremehkannya itu.
“siapapun yang menjadi abdiku... maka nasibnya berada ditanganku.
Begitu juga denganmu. Kau tenang saja chagiya. Aku akan menyimpan kalungmu ini.
Tapi setelah darah kita bersatu. Tunggulah 2 hari lagi” ujarnya dengan nada
yang aku rasa tak ada kesan keiblisannya. Hanya terkesan protective dan lembut
serta............ tulus! Tapi apakah makhluk sepertinya memiliki sifat lembut
dan tulus... selama ini tak ada yang memberitahuku bahwa iblis memiliki sifat
seperti itu.
“kau tak usah memikirkannya chagiya...” kenapa ia...? aigoo!!
Michelle babo! Kalungmu tak ada...
“kau menyadari juga kenapa aku dari tadi bisa menyahuti unek-unek
yang ada pada pikiranmu eoh ?” aish dia mengacak-acak rambutku. Ingin sekali ku
tepis tangannya tapi tubuhku tak bisa digerakkan.
“kau tenang saja. Aku tak akan melarangmu pergi ke Antermedia,...
nona kecil Park” dia bangkit dan menjauh dari ranjang
“Changmin sudah kulepaskan sejak kau ada disini. Michelle Cho”
ucapnya meremehkan. Aku memang akan terus mengungkitnya jika ia belum juga
menepati janjinya.
___________________________________________________________________________
Bulan purnama. Ia.
Marcus Cho. Pangeran Iblis yang kini berada disampingku hanya tersenyum pada
rakyatnya yang berada dibawah sana. Kami-aku dan Marcus- berada di menara di
kastil utama dunia ini. Entahlah aku tak tahu ini namanya apa. Tubuhku masih
dimanterai olehnya. Tanpa kalungku itu aku tak bisa apa-apa.
“pangeran Cho. Sekarang saatnya. Puncak purnama” ucap seseorang
dengan jubah hitam yang sama seperti Marcus
“ne” ucapnya dingin. Ia sangat berbeda saat bertemu denganku. Ia
mengeluarkan cincin yang sempat appaku rebut. Jadi itu untuk melantik Raja
disini.. sungguh aneh.. terserah dia mau tahu atau apa dengan pikiranku...
semua ini demi Changmin
“jika kau tak bisa berhenti menyebut nama manusia bodoh itu. Bisa
ku pastikan bahwa hidupnya tak lama lagi” ujarnya dingin sambil menggores
telapak tangan kirinya dengan batu dicincin tersebut. Ia yang tadinya menatap
lurus kedepan kini menghadapku yang ada disampingnya.
Dia meraih tanganku
dan menggores telapak tangan kananku dengan batu dicincin itu. Ini sakit. Tanpa
kalungku, aku memang sangat lemah. Ia menyatukan luka itu. Kurasakan telapak
tangan kananku hangat dan setelah itu cahaya hitam terang bercampur putih
mengelilingi kami-aku dan Marcus- dan kemudian terserap ke batu cincin hitam
itu. Ah ani sedikit bening sekarang.
‘selama kau berada disini. Auramu kusimpan’ itulah pesan dari...
pikirannya.. benarkah ? pantas appa dan eomma-ku kerap berkomunikasi dengan
tatapan.
___________________________________________________________________________
Marcus memelukku
erat. Mantera itu memang sudah terlepas. Kalungku sudah ia kembalikan dan
ia-Marcus- adalah manusia yang diangkat menjadi Angel dan kemudian dibesarkan
oleh bangsa iblis ini dan diangkat menjadi Pangeran.
Marcus POV
Kugerakkan salah
satu tanganku yang tadinya berada dipinggangnya ke tengkuknya. Kubacakan
mantera dalam diam dan kusentuh tengkuknya. Ia menggelinjang dan tak sadarkan
diri.
Aku adalah iblis
tapi setidaknya aku masih mempunyai rasa kasih sayang. Sebenarnya dengan
kembalinya cincin ini aku bisa saja menyerang Antermedia. Tapi aku tahu
walaupun ia sudah diusir dari sana, masih menyayangi orang tuanya yang berada
disana.
Oleh karena itu
lebih baik jika manusia yang berani merebut hatimu itu mati dan kuhapus
ingatanmu itu tentang namja itu. Mianhada Michelle Cho. Nan jeongmal
saranghamnida...
___________________________________________________________________________
END