1.
Title
: I’m not meant for
you
2.
Author : Komozaku Mitsuyuki/Fortunia
Ryu
3.
Casts : Park Jungsoo, Hwang Jaein,
Choi Minji ( Real name by : Min Soa Chocolat), Choi Siwon, and other casts find
by your self
4.
Genre : School life, AU, Tragedy
and other up to reader.
5.
Rated : PG 13
6.
Lenght : Oneshoot
7.
Disclaimer : FF yang aku buat dihari Ulang
tahunnya Uri Leader, dan special untuk uri Leader. Saengil Chukha Hamnida oppa.
Makin ganteng, makin cerewet, makin baik hati, makin sukses, cepet keluar dari
camp militer buat comeback bareng oppadeul. Amiiin. Cerita aneh. Typo(s)
anywhere. No Plagiat because story is Mine!! Hahaha#ketawa bareng Kyuhyun.
Sedikit
curhat, ini gara-gara mau tidur tapi ibu aku lihat sinetron trus diputer
lagunya Rossa aku bukan untukmu dan jadilah ni FF. FF pertama terinspirasi
gara-gara denger lagu Indo. Rossa Ahjumma gamsahamnida#Bow bareng Oppadeul eh ?
Story....
“Minji-ah. Ige- bukankah kau menyukai crisan putih ? dan coklat
ini- semoga harimu menyenangkan” Jungsoo
berlalu dari hadapan Minji yang menatapnya datar. Yah- mereka bukan satu
tingkatan, Jungsoo yang sudah kelas 3 senior high school sedangkan Minji baru
kelas 2 junior high school. Minji memandang sesaat kearah tangga tak jauh dari
tempatnya berdiri Jae In sunbarnya kelas 2 senior high school menatapnya dengan
tatapan yang- sulit diartikan. Ia bingung kenapa sunbaenya selalu menatapnya
seperti itu.
“Minji-ah!!” mendengar Sooeun memanggilnya ia langsung berlari
mendekati temannya.
“Kenapa kau meninggalkanku sendiri ? Aish, kau mengerjaiku ?”
Sooeun tertawa ringan membuat Minji memukul pundak temannya sebal.
“Seharusnya kau berterimakasih padaku, kau bisa berduaan dengan
Jungsoo sunbaenim. Kau tahu, hampir seluruh siswi disini iri padamu karena
Jungsoo sunbaenim begitu menyukaimu. Ah- hari ini kau dapat bunga crisan dan
coklat, aigoo!! Aigoo!! Romantisnya, aku iri denganmu Minji. Hah- ia juga
seorang traineer di SM dan sebenatar lagi akan debut. Aigoo- aigoo, jika aku
jadi kau aku akan langsung menerimanya Minji-ah, kau bodoh sekali!” Minji hanya
diam temannya berceloteh ria memuja-muja seorang Park Jungsoo, baginya ia tak
tertarik dengan Jungsoo sunbaenim.
4 yeoja dari
pakaiannya adalah sunbae mereka senior high school berdiri dengan ekspresi
seperti ingin menerkam mereka. Atau mungkin Minji ? JungYoeun. Yeoja paling
tinggi dari mereka berempat maju satu langkah dengan tangan dilipat sedepan
dada. Wajah cantik tapi angkuh dengan polesan make up terlalu menor menurutnya.
“Minji. Choi Minji. Geruraechi ?” Yoeun sedikit menunduk untuk membaca
tag name di blazer biru tua minji.
“Nde, sunbaenim. Naya- Choi Minji. Waegeurae ?” terdengar sekali
nada tegas dalam ucapannya membuat Yoeun tersenyum sinis merasa bocah
dihadapannya menantangnya. Tangannya bersiap untuk mengayun untuk menampar
Minji namun seseorang berhasil menahannya.
“N-neo ?!” Yoeun terbata melihat Jaein yang menahan tangannya.
“Sebaiknya kau tak menyentuhnya. Bukankah Jungsoo sudah
memperingatkanmu, ia tak menyukaimu jadi jangan lampiaskan itu semua pada
Minji.” Ujar Jaein tenang. Yoeun menyentakkan tangannya hingga tangannya
terlepas dari genggaman Jaein.
“Hahaha... tak usah menafik nona Hwang. Aku tahu dan semua orang
juga tahu kau juga menyukai Jungsoo oppa. Jadi berhentilah menjadi orang
munafik. Bukankah dulu kau mengacuhkannya dan sekarang kau menginginkannya.
Jika menginginkannya katakan saja. Dasar munafik!!” Jaein mulai tersulut
emosinya. Tangannya mengepal menahan amarah.
“Nde, geurae. Aku memang menyukainya tapi aku tak pernah berharap
padanya. Untukku melihatnya tersenyum itu sudah cukup untukku. Dan kau-” jari
telunjuk Jaein yang lentik mengarah pada diri Yoeun. Tatapan mata Jaein begitu
mengerikan, baru kali ini Jaein berekspresi seperti itu.
“Aku akan membuatmu menyesal jika kau sampai menyentuh Minji.
Bahkan jika kau lari kemanapun aku akan tetap membuat perhitungan padamu” Jaein
berbalik. Matanya tak sengaja melihat Jungsoo berdiri tak jauh dari mereka
diantara siswa yang dari tadi menonton mereka.
“Oppa-” Jaein mendesis lirih hingga ia berjalan cepat kembali ke kelasnya.
Gedung utara lantai 2.
***
“Jaein!! Hwang Jaein!!” Jaein menghentikan langkahnya saat
seseorang berhasil menahan pergelangan tangannya. Perlahan Jaein berbalik. Ia
langsung mengambur kedalam pelukan namja itu.
“Oppa, kenapa sesakit ini. Apa rasa sakit seperti ini juga yang
dirasakan Jungsoo oppa saat aku mengacuhkannya dulu oppa ? Aku tak kuat, aku
tak tahan. Hiks, hiks” Choi Siwon. Namja itu mengelus lembut rambut Jaein
berharap dapat menenangkan sepupunya itu.
“Kenapa ia bisa bertahan denganku selama 3 tahun oppa ?? aku bodoh.
Hiks, hiks. Nan jeongmal baboya yeoja. Hiks, hiks” Jaein terus sesegukan dalam
pelukan Siwon. Siwon menyandarkan dagunya dipucuk kepala Jaein dan Jaein
semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Siwon. Ia- butuh sandaran
sekarang. Jaein melepaskan pelukannya setelah isakan itu tak keluar dari bibir
tipisnya.
“Ikut oppa” Siwon menarik Jaein pergi dari lorong itu. Seseorang
melihatnya tersenyum miris. Dalam hatinya ia kini ragu. Sejujurnya cintanya
untuk Jaein belum pudar begitu saja namun dirinya sudah lelah untuk berharap
pada Jaein. Minji, ia tak tahu bagaimana perasaan hoobaenya itu. Ia tak sanggup
melihat Jaein, yeoja yang pertama kali membuatnya jatuh cinta begitu terpuruk.
Hatinya juga ingin menjerit.
***
“Lalu bagaimana ?” Siwon memecahkan keheningan diantara mereka.
Sedangkan Jaein menatap Kupu-kupu berwarna putih yang hinggap dikuntum bunga
mawar putih yang belum mekar. Mereka duduk beralaskan rumput hijau dengan
semillir angin yang membuat rambut ikal Jaein bergerak ringan mengikuti arah
angin.
“Jaein-ah” Jaein menoleh menatap Siwon yang dari tadi menatapnya
menunggu curahan dari yeoja yang sudah dianggapnya seperti adik kandungnya
sendiri.
“Mianhae oppa. Aku membuatmu ikut khawtir. Aku sudah besar dan
seharusnya aku bisa mengurus diriku sendiri. Gomawo- untuk bantuanmu selama ini
oppa”
“Jaein-ah, ak-”
“Aku ingin disini sendiri oppa. Bisa oppa meninggalkanku sendiri.
Aku ingin memikirkannya baik-baik. Oppa percaya padaku ani ? Sampaikan salamku
pada Hyunri eonni dan maaf karena aku waktu oppa tak bisa menemani Hyunri
eonni” Siwon mengangguk. Ia bangkit dan kembali ke asramanya. Kelas ? Ia sedang
tak berminat melanjutkan pelajaran sekarang.
Jaein kembali
mengalihkan perhatiannya pada Kupu-kupu putih yang hinggap diatas bunga mawar
putih. Bunga kesukaanya. Tangannya meraih kalung emas putih dengan bandul bunga
mawar. Pemberian Jungsoo. Ia tersenyum dan mengusap-usap bandulnya. Kalung yang
Jungsoo beli dengan hasil bekerja part timenya disebuah toko roti selama 3
bulan. Jungsoo selalu ingin membuatnya tersenyum dan saat ia menyadari bahwa ia
mencintai Jungsoo, Jungsoo terlebih dahulu berpaling darinya.
Tapi ini salahnya.
Salahnya yang membuat Jungsoo menunggunya begitu lama. 3 tahun bukanlah waktu
yang sebentar. Bunga mawar putih yang selalu ada dilokernya saat pagi.
Menunggunya di perpustakaan, membelikannya makanan saat kantin sedang penuh.
“Jungsoo, Park Jungsoo” air matanya turun. Ia memang terlihat
dingin diluar namun dibalik itu- ia akan meneteskan air mata saat Jungsoo
tersenyum untuk orang lain. Jaein menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya
disana.
“Jaein” suara ini. Suara yang ia rindukan. Suara namja yang setiap
pagi menyapanya dengan senyuman. Jaein mengangkat wajahnya ragu. Batinnya
menjerit. Apakah ini ilusi ? Tangan hangat itu menghapus air mata disudut mata
Jaein dan kedua pipinya.
“Jungsoo-”
“Kenapa kau begini ? Aku pikir setelah aku pergi kau akan tersenyum
seperti dulu sebelum aku mengejarmu ? Seharusnya sekarang aku tersenyum bukan
menangis seperti ini. Apa artinya aku meninggalkanmu jika yang kudapat hanya
air matamu. Jaein-ah, jangan seperti ini. Kau membuatku bingung” Jaein menunduk
ia tak berani membalas tatapan mata Jungsoo.
“Bukankah aku sudah berpesan untuk menjaga dirimu ? Kenapa kau tak melakukannya
? Bukankah kau sudah setuju aku akan pergi menjauh darimu asal kau menjaga
dirimu baik-baik ? Apa aku harus kembali kesisimu ? Hah- kau pasti tak mau
bukan aku kembali disampingmu. Jadi jangan seperti ini, jangan membuatku
khawatir namun aku tak bisa membautmu nyaman” Jaein hanya terdiam mendengar
setiap menuturan Jungsoo.
“Mian, mian Jungsoo oppa. Hiks-hiks, hiks” Jaein memeluk Jungsoo
yang duduk besilah didepannya tiba-tiba. Pelukan itu membuat tubuh Jungsoo
sedikit terguncang kebelakang. Debaran itu kembali ia rasakan, itu membuatnya
semakin bingung. Hatinya memang benar. Jaein- gadis itu sekarang menerima
kehadirannya.
***
“Sooeun-ah, sebenarnya ada apa tadi. Bukankah tadi itu Hwang Jaein
sunbaenim dan Choi Yoeun sunbaenim ? Jaein Sunbaenim anak pemilik sekolah ini
dan Yoeun Sunbaenim adalah sepupunya ani ?” tanya Minji pada Sooeun setengah
bebisik agar tak didengar oleh Kim Seonsaengnim. Sooeun hanya mengangguk.
“Apa hubungan mereka dengan Jungsoo Sunbaenim ?” Sooeun meletakkan pencilnya diatas meja. Ia
menatap Minji dengan tatapan tajam.
“Kau mulai tertarik dengan Jungsoo sunbaenim ?” tak!! Minji mati
kutu. Ia bingung, ia memang tersentuh dengan apa yang dilakukan Jungsoo selama
ini untuknya, tapi maksud tertarik dengan Jungsoo sunbaenim disini adalah
mencintainya atau sekedar penasaran dengannya ?
“Mollayeo” ujar Minji lirih.
“Sejak kelas 3 junior high school Jungsoo sunbaenim menyukai Jaein
Sunbaenim namun Jaein sunbaenim itu dulu sangat angkuh, apalagi dulu Jungsoo
sunbaenim masuk dengan beasiswa dan berasal dari golongan bawah. Sedangkan
Yoeun sunbaenim tertarik pada Jungsoo sunbaenim sejak kelas 1 senior high
school karena Yoeun sunbaenim itu siswa pindahan” Minji mengangguk-angguk dan
menyenggol tangan Sooeun untuk melanjutkan ceritanya.
“Lalu ? Kenapa hubungan mereka seperti tidak saling mengenal
seperti itu. Jaein sunbaenim, ia selalu menatapku dengan tatapan yang- campuk
aduk. Seperti benci, tapi tidak, marah, juga tidak, simpati- atau entahlah
tapi-” JDOKKK.
“Nona Choi, Nona Jung. Silahkan keluar dari kelas saya” Kim
Seonsaengnim menatap tajam mereka yang kini hanya dapat menunduk.
***
Jaein keluar dari
mobil Hyundai NF Sonata hitam kesayangan Oppanya. Selama oppanya di Shanghai,
mobil itu bebas dipakai olehnya. Balutan gaun putih 5 cm diatas lutut dengan
rambut ikal yang gerai membuatnya begitu menawan syal putih pemberian Jungsoo
menghangatkan lehernya dari udara dingin. Matanya menatap rumah dengan cat
hijau yang berada dibalik pagar kayu dengan cat putih. Rumah yang begitu nyaman
pikirnya.
Jaein melangkah
membuka pagar kayu sebatas pinggang dan mengamati halaman hijau rumah tersebut.
Tangannya terangkat untuk memencet bel rumah namun ia urungkan dan memilih
bersembunyi dibalik tiang yang cukup besar. Matanya sedikit memanas dan berair.
Minji turun dari sepeda Jungsoo. Jungsoo mengacak rambut Minji sebelum mengecup
kening yeoja itu. Jaein menghapus air matanya saat Minji berjalan mendekat.
“Su-su-Sunbaenim” Minji tergagap. Jaein tersenyum lembut lalu
menarik tangan Minji mengikutinya. Ia was-was. ‘Jaein sunbaenim mencintai
Jungsoo sunbaenim’ itulah sepenggal kalimat Sooeun yang terinang dikepalanya
sekarang.
***
Minji meremas
ujung lengan blazer yang dipakainya membuat Jaein terkikik dalam diam sambil
meminum jus jambu dengan santai. Raut wajah Minji yang ditekuk, hey! Apakah aku
begitu menakutkan dimatanya ? Jaein berdehem untuk menarik perhatian Minji
untuk menatapnya.
“Minji. Choi Minji, apakah aku mencintai Jungsoo oppa ?” Minji tak
menjawab. Bernafas saja itu sulit baginya. ‘Jaein sunbaenim itu dulu hanya
mementingkan dirinya sendiri. Tapi katanya sekarang sudah berubah. Katanya.
Mollayeo, sudah diam aku tak mau disuruh Kim tua itu mengerjakan soal lagi’
Choi Minji!! Ayolah-
Jaein terlihat gak
sadar menunggu jawaban dari Minji ia mengetuk-ketukkan kuku jari telunjuknya
diatas meja. Sesekali melihat jam putih pemberian Jungsoo saat ulang tahunnya
ke-15.
“Choi Minji, aku tak punya banyak waktu. Marhaebwa!!” nada bicara
Jaein terdengar halus sedikit membuat rasa takutnya menghilang.
“Kudengar tadi sunbae tidak berangkat, apa sunbae sakit ?” Jaein
mendecak kesal mendapat respon yang tak sesuai dengan harapan.
“Yak!! Aku tak punya banyak waktu bocah, tinggal jawab apa susah
ya. Oh, kau takut padaku. Tenang saja ini mungkin terakhir kalinya kau bertemu
denganku” Minji melongo. ‘Jaein Sunbaenim termasuk orang yang nekat’ ucapan
Sooeun kembali terinang.
“Apa sunbae berniat bunuh diri karena sakit hati ? Aigoo sunbae-
kalau begitu biar aku saja yang mengalah. Aku tak apa Jungsoo op- sunbae
bersama sunbaenim. Lagipula kalian cocok, sangat serasi” ucapan Minji melirih
dikata cocok dan serasi diakhiri senyum kecut. Itu artinya keputusan Jaein
mungkin sudah tepat. Senyum cerah mengembang dibibir Jaein, melihat itu Minji
kembali tersenyum kecut. Baru 2 hari. Akankah ? Tapi Jaein Sunbae sangat
cantik, manis dan serba berkecukupan. Memang ia yang pantas untuk Jungsoo
op-pa. Jaein mengeluarkan sejumlah uang yang diletakkan diatas meja.
“Minji-ah, aku pinjam namjachingu untuk satu hari ini. Pulanglah
dengan taksi maaf tak mengantarmu pulang” Jaein berjalan bahkan hampir seperti
berlari keluar dari cafe. Sementara
Minji membuang nafasnya kasar.
“Mulut bodoh”
***
“Jaein” Jaein tersenyum dan menarik tangan Jungsoo untuk duduk
diteras rumah. Hati Jungsoo sebenarnya gelisah karena tak melihat Jaein selama
4 hari ini. Bolos!! Karena diam-diam Jungsoo masih memperhatikan Jaein dari
jauh.
“Mulai sekarang belajarnya menutup mata hatimu untuk yeoja lain
selain Minji. Ia tulus mencintaimu tapi ia terlalu polos, oppa- berhentilah
memperhatikanku dalam diam.. aku- akan baik-baik saja. Dan- maaf. Karena selama
ini aku- pasti menyakitimu” Jungsoo tersenyum kecil.
“Aku tak bisa berjanji padamu. Aku hanya akan mencobanya” Jungsoo
memerhatikan syal putih yang melilit leher putih salju Jaein. Pas. Tak ada
penyesalan baginya telah meluangkan waktunya untuk mencari uang tambahan.
“Aku akan membantumu oppa-” Jaein mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah jam tangan berwarna hitam, ponsel, dan- gelang dari platina. Barang pertama
yang diambil Jaein adalah jam tangan. Ia memasangkannya dilengan kiri Jungsoo,
mengambil ponsel dan menaruhnya digenggaman tangan kanan Jungsoo, terakhir
gelang dari platina di lengan kanan Jungsoo.
“Untuk apa ? Maaf ? Tidak usah seperti Jaein-ah” tangan Jaein
menahan tangan kiri Jungsoo yang berusaha melepas gelang dari platina itu.
Karena jelas gelang itu paling mahal. Walaupun sama-sama dari platina seperti
kalung yang pernah ia berikan untuk Jaein dulu- tapi harganya pasti jauh
berbeda.
“Jika kau mengembalikannya maka aku akan mengembalikan semua yang
pernah kau berikan untukku” Jungsoo mengalah.
“Oppa- aku akan menuruti permintaanmu tapi kau harus janji- jangan
pernah kembali menatapku karena itu hanya akan membuatmu sakit” Jaein menarik
tangan Jungsoo untuk berdiri dan memeluknya.
***
Hari itu hari
terakhirku melihatnya. 12/04/2000. Gelang itu berukirkan tulisan yunani.
Seperti do’aku untukmu karena aku tak dapat berada disampingmu. Semoga kau
bahagia, semoga kau selalu sehat dan teruslah tersenyum seperti senyummu untuk
menyambutku setiap pagi.
Kini- bahkan
setiap hari aku dapat melihatmu. Aku tak menyesal melepasmu karena hatimu bukan
untukku sepenuhnya. Juga dirinya yang secara perlahan menghapus namaku
dihatimu. Hanya saja kau terlalu terpaku padaku. Sifatmu yang tak ingin orang
lain disekitarmu menangis membuatmu lemah. Jungsoo- tapi sekarang jika ia
menangis ada jutaan orang yang akan menghapus air matanya.
‘Setelah keluar dari wajib militer tepat dihari kelahirannya.
Leader yang didaulat The Best Leader ini mengaku ada seseorang yang
mengajarinya untuk jangan terpaku pada masa lalu. “Kadang kita tidak boleh
terlalu iba dengan seseorang karena itu kita akan salah menafsirkan apa yang
sebenarnya hati kita rasakan” perkataan ambigu leader yang terkenal dengan
kepeduliannya’
Apakah itu berarti
ia masih mengingatku ? Setelah14 tahun berlalu ? Terima kasih karena sudah mau
mengenangku. Yah, mengenangku dalam ingatan masa lalunya.
***
END
