2. Author : K. Fortuna [Ikrillah Kh]
3. Casts : Marcus Cho/Cho Kyuhyun, Yoon Hyehwa. Others casts bila ada.
4. Genre : AU, fantasy, romance. Etc
5. Rated : PG 15
6. Lenght : Ficlet
7. Disclaimer : Cerita dalam Another World yang saya buat ceritanya saling terhubung dalam bentuk Ficlet maupun Dribble. Don’t be Copas and Plagiat. Typo(s) anywhere. Resiko ditanggung reader yang baca. Mian jika kurang berkenan dihati. FF ini 100% fiksi belaka.
Story.................................
Yoon Hyehwa POV
Kualihkan pandanganku menuju keluar kelas. Sejarah memang membosankan. Hah... hamparan rumput yang tertata rapi. Dengan pohon sakura dan cemara disekeliling taman sekolah. Yah... seperti yang kau tahu Cheonan memang daerah yang terletak didataran tinggi. Dan dari lantai 3 ruang kelasku ini bisa kulihat bukit kecil yang indah.
Mataku membulat. Kenapa namja yang mengaku dirinya angel yang dibuang itu melayang dan kakinya tertumpu diatas salah satu pohon cemara disana ? Bukankah ia bilang tak akan menggangguku disekolah asal aku mengijinkannya untuk berada dirumahku ? Dasar namja tidak bisa dipercaya!! Aku menatapnya tajam dan ia membalas tatapanku cuek.
‘Aish... namja babo!! Pulang dan jangan ganggu aku disekolah!!’ semoga kata batinku ini bisa terdengar olehnya. Tapi apa bisa ? aku hanya menatapnya saja.
‘Disana membosankan Yoon Hyehwa. Asal aku berada disekitar keluargamu maka aku akan aman dari kejaran raja evil babo itu’ eh ? Itu suaranya ? apa ia bisa mendengar kata batinku. Ia hanya tersenyum sok manis dan polos. Cih... menjijikan!!
‘Tapi kau mengganggu konsentrasiku babo’ aku menatapnya geram sementara ia tetap memasang wajah sok polosnya itu. Dasar Angel babo!!
‘Bukankah kau sudah tidak menikmati pelajaran ini dari tadi ? Baiklah akan kubuat kau keluar dari ruangan itu sekarang’
“Yak!!” petikku keras sambil berdiri. Aku menggebrak meja karena ia bertingkah semaunya sendiri. Aku menatap namja yang kini tersenyum manis ditempatnya.
“Nona Yoon Hyehwa. Jika anda tidak ingin mengikuti pelajaran saya silahkan keluar daripada anda membuat keributan didalam kelas dengan berteriak dan menggebrak meja sembarangan. Dan jangan lupa buat rangkuman tentang perang dunia 1 dan 2 jika tidak nilai sejarahmu kosong mengerti!!” aku hanya menunduk. Kim Heechul Seonsaengnim memang sangat mengerikan.
“Ne arraseo seonsaengnim. Mianhada mengganggu pelajaran anda” aku tak berani protes padanya. Ia mengerikan.
Aku membereskan bukuku dan mengambil buku tulis serta alat tulis. Ucapan Kim seonsaengnim barusan adalah cara mengusir siswa dari kelas secara halus. Aku berjalan keluar ruangan kelas. Aku menunduk sebelum aku keluar dari kelas dan menuntup pintu.
‘Awas kau namja babo!! Sudah memelas pada orang agar ditolong sekarang ia malah membuatku harus mengerjakan tugas dadakan ini’ rutukku sepanjang jalan menuju perpustakaan. Dimana lagi kau akan mendapatkan referensi disekolah ? Internet ? Disekolahku saat pelajaran berlangsung koneksi wi-fi dimatikan. Jangan harap kau bisa internetan bebas seperti twitter-an, facebook-an atau sekedar membuka blogmu.
Kuputar handle pintu perpustakaan. Kulangkahkan kakiku diruangan yang sebagian besar siswa membencinya termasuk aku. Membaca memang membosankan. Kulihat penjaga perpustakaan sedang tidak ada disana. Kuletakan alat tulis yang kubawa dimeja baca. Kuarahkan langkah kakiku menuju rak-rak buku yang ada disana. Kuteliti di kolom 800 yang berisi bacaan tentang sejarah. Jariku menelurusi setiap detail buku-buku yang tertata rapi disana.
“Dapat!!” petikku sambil mengambil buku ini. Aku termenung disekat-sekat rak buku ini. Aku menghela nafas sejenak. Aku tidak suka sejarah, bagaimana bisa aku menyelesaikan rangkuman itu.
“Tak usah khawatir. Aku bisa membantukku asal kau mau membantuku mengembalikan kekuataanku” aku berbalik. Aku menatap jengah namja yang berdiri dengan bersandar dirak buku dengan melipat tangannya didepan dada. Tatapan matanya yang tajam dengan bola mata biru kehijauan itu menatapku.
“Kau ini banyak sekali maunya. Jujur aku belum percaya jika aku adalah keturunan white angel seperti yang kau ceritakkan!” ia membuang nafasnya lalu mengalihkan padangannya pada buku yang sedang kupegang.
“Terserah. Tapi aku butuh auramu” ia berjalan menghampiriku dan mengambil buku –yang sangat kubenci- dan membawanya ke meja baca. Aku hanya mengekorinya dari belakang.
“Aku tidak tahu maksudmu Marcus-ssi ?” ia duduk dan matanya dengan teliti membaca buku itu. Aku menatapnya menuntut penjelasaan tapi ia tidak menghiraukannya.
“Hah... baiklah, dengarkan aku baik-baik. Ini seperti pelajaran sejarah tapi kuharap kau tidak akan bosan mendengar cerita dariku!!” aku tersenyum dan mengangguk semangat. Aku langsung duduk dihadapannya dan mulai menyimak apa yang ia katakan.
“Jadi, dulu ada seorang dari golongan white angel, ia seorang petinggi dikerajaan angel dan ia diutus kebumi untuk mencari sebuah batu yang entah aku lupa bernama apa yang bisa digunakan untuk menyimpan kekuatan dari seorang angel, jadi apabila kekuatan angel itu tak bisa dikendalikan ia bisa menyimpannya tanpa harus merelakan tubuhnya musnah bila tak bisa mengendalikan kekuatan itu. Tapi orang itu tak kunjung kembali, dari berita yang beredar ia berbaur dengan manusia. Dan aku bisa merasakan aura damai dan tenang dirumahmu dan aura white angelmu itu paling kuat diantara orang yang ada dirumahmu itu” aku masih serius mendengar penjelasaannya saat ia membuang nafas kesamping.
“Dan aura white angel itu bisa mengembalikan kekuatan ataupun luka fisik maupun dalam di golongan dark angel sepertiku. Kau maukan membantuku ?” ia menatapku berharap. Ah... akukan yeoja baik hati. Mana sanggup aku menolak permintaan orang yang sudah memelas sepertinya dihadapanku.
“Apa aku akan mati jika aku memberikan aura white angel-ku padamu ?” ia hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan dariku. Hey.. apa aku salah ? aku tak ingin menolong orang lain jika akhirnya aku mati. Aku belum sempat menjadi anak yang baik untuk eomma dan appa.
“Tidak. Aku hanya akan sedikit pusing saja. Agar lebih cepat, kita lakukan dimalam bulan purnama karena saat itu aura white angel mudah dikendalikan maupun ditranfer” aku mengangguk. Ah.. apalagi ya ? Aku sebenarnya punya banyak pertanyaan tapi entah kenapa semuanya lenyap sekarang.
“Ohya... Marcus-ssi bagaimana caranya ?” ia membekap mulutnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya meletakkan buku sejarah diatas meja baca. Hey.. ada yang salah dengan pertanyaanku ? Aku benarkan jika aku ingin mentransfer aura-ku tapi aku tak tahu bagaimana caranya apa itu bisa ?
“Marcus-ssi berhentilah tertawa. Tidak ada yang lucu” aku jengah menatapnya. Menyebalkan.
“Kau yakin ingin tahu” ia memasang senyum yang seperti—pervert. Mwo ?
Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari meja baca lalu duduk dibangku yang sama denganku. Ia menghadapku dan memegang kedua pundakku untuk beradu pandang dengannya.
“Kau yakin ingin tahu caranya ? Ini hanya gerakannya saja, untuk mantranya biar nanti saja” ujarnya sebelum menyatukan bibirnya dengan bibirku. Ia menyedot udara dari mulutku dan sepertinya menelannya. Benarkah ? aku masih menatapnya yang sudah memejamkan matanya sambil menyedot udara yang kuhirup lewat bibirnya.
Kriiing.. Kriiiing
Suara itu membuatkan membuka matanya dan menjauhkan wajahnya dariku. 15 cm. Mungkin. Yang jelas masih dekat dengan tangannya yang ada dipundakku.
“Seperti itu Yoon Hyehwa~” aku masih membeku ditempat dengan tatapan mataku yang terkunci untuk menatapnya.
___________________________________________________________________________
End
No comments:
Post a Comment