Wednesday, February 27, 2013

Sapphhire Blue World [Ficlet]


Title                 : Sight
Author             : K. Fortuna
Casts               : Marcus Cho, Alliciana Park, Keirai
Length             : Ficlet
Genre              : AU, Fantasy, Romance
Rated              : PG 15
Disclamer        : This Fanfiction is Mine. Don’t be Plagiat, pure my idea.

Story...............................
Author POV
“Mau apa kau kemari ? kurasa kau bukan orang bodoh yang tak tahu tentang aturan disini!” yeoja berkulit putih dengan gaun panjang putih yang dihiasi pernak-pernik disana-sini itu mengacungkan tongkatnya pada namja yang masih memasang wajah santainya itu.
“Wae ? aku hanya ingin jalan-jalan” ujar namja itu santai. Ia tak memasang wajah waspada seperti yeoja yang ada dihadapannya. Bahkan namja itu tak mengeluarkan tongkatnya untuk menjaga dirinya.
“Yak! Marcus Cho! Aku bertanya baik-baik padamu. Atau kau mau aku menyerahkanmu pada Keirai!” yeoja itu semakin geram menghadapi namja yang ada dihadapannya.
“Kau tahu aku ? apa aku juga terkenal dikalangan Elf hijau ? aku kira aku hanya terkenal di bangsaku saja” yeoja itu mencelos mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut namja itu.
“Pantas saja bangsamu-Elf biru-sangat tidak tahu aturan. Ternyata Chizhou mereka lebih tak tahu aturan” yeoja tadi tersenyum mengejek.
“Apa yang kau katakan ? tarik lagi kata-katamu jika kau masih ingin hidup!” rahang Marcus mengeras mendengar penuturan dari yeoja dihadapannya.
“Aku tak akan pernah menarik kata-kataku. Jika kau tidak tahu aturan lalu apa namanya ? kau melewati lembah Verquez dan berkeliaran di hutan Aratis. Apa tujuanmu kemari ? menjadi penyusup ? atau membuat keonaran di Mateya!” Marcus mulai terbakar emosinya. Hari juga sudah mulai malam. Hawa dingin itu mulai terasa di hutan Aratis yang letaknya tak jauh dari kota Mateya.
“Apa tujuanku kemari itu bukan urusanmu” terdengar nada ketus keluar dari mulut namja dengan mata biru laut itu. Rambut coklatnya bergoyang seirama dengan jubah hitamnya yang elegan.
“Kau berada diwilayah kekuasaanku! Jadi katakan apa tujuanmu datang kemari” Marcus mempertajam tatapan matanya pada yeoja yang ia tak tahu siapa. Yang jelas ia adalah makhluk sepertinya. Elf. Namun matanya berwarna hijau.
“Alliciana Park” desis Marcus.
“Baguslah jika kau sadar sekarang kau berhadapan dengan siapa” Alliciana kini melayang. Tongkat Atarios masih digenggaman tanganya. Tongkat dengan permata Ovilin kuning-kehijauan. Marcus menatap yeoja yang berada di kini melayang diatasnya itu.
“Sekarang katakan apa tujuanmu datang kemari! Aku tak punya banyak waktu. Jika kau tidak mengatakannya maka aku akan membawamu ke Keirai” Marcus menatap Alliciana sendu.
“Aku hanya ingin bertanding denganmu”
“baiklah. Modus amarus” tanpa Marcus duga Alliciana langsung mengarahkan tongkat Atariosnya pada dirinya. Namun untunglah ia bisa bergerak cepat untuk menghindar.
“Modus Amarus” Marcus dengan cekatan berpindah tempat menghindari cahaya putih dari Atorios.
“Modus Amarus” lagi. Alliciana mengarahkan tongkatnya kearah Marcus. Kali ini ia tak menghindar. Mengarahkan tongkat Loverdisnya keatas dengan cepat.
“Revour” cahaya putih yang keluar dari Atarios itu lenyap.
“Modus amarus”-“Revour” Marcus kini ikut melayang seperti Alliciana.
“Apa maumu ? kenapa kau tidak balas menyerang. Kenapa dari tadi kau hanya menghindar ? bukankah kau tadi mengatakan ingin bertanding denganku” Alliciana menurunkan Atoriosnya. Ia menatap Marcus yang kini juga melayang 2 meter darinya. Entah kenapa ia yakin Marcus tidak akan menyerangnya.
“Appa terkena racun Lucifer. Ia membutuhkan daun Orodis, namun di Amasia sudah tak ada lagi. akhirnya aku kemari. Aku harap kau mau memberiku 3 helai daun Orodis. Aku mohon... aku janji tidak akan memasuki Mateya lagi” Marcus menatap Alliciana penuh harap.
“Baiklah” Hari sudah malam. Mereka meninggalkan hutan Aratis. Cahaya mereka saat terbang membuat langit disekitar mereka menjadi terang.
___________________________________________________________________________
“Appa” namja paruh baya yang sedang duduk diatas balkon menara pengawas itu mengalihkan perhatiannya menuju suara yang sudah tak asing baginya. Bahkan sangat familiar.
“Alliciana. Kau-” Dennis-Keirai Elf Hijau- tak mampu berkata apa-apa.
“Alliciana. Dibelakangmu” petik Dennis melihat sosok dibelakang putri tunggalnya yang tengah melayang menghampiri dirinya.
“Pengawal........!!!” Dennis berteriak histeris. Ia tak ingin Alliciana terbunuh seperti istri dan kakaknya.
“Appa... tak apa, Marcus kemari hanya ingin meminta bantuan tidak lebih” Ujar Alliciana melihat begitu banyak pengawal yang berada disekitar mereka.
“Tangkap Marcus” perintah Dennis. Jelas tergambar rasa bencinya saat menatap Marcus. Lebih tetapnya saat melihat makhluk yang sama seperti Marcus-Elf Hijau-.
“Jangan!!” Alliciana membalikkan tubuhnya ia memeluk Marcus. ia merasa bahwa Marcus sangat memerlukan daun Orodis itu. Ia rasa Marcus adalah makhluk yang baik.
“Alliciana. Apa yang kau lakukan chagiya. Mereka berbahaya” Dennis memperingatkan putri satu-satunya itu. Alliciana melepaskan pelukkannya. Yeoja dengan pakaian kerajaan itu menautkan tangannya pada namja disampingnya.
“Marcus hanya ingin meminta 3 helai daun Orodis saja Appa. Cho Keirai sekarang sedang sekarat. Ia terkena racun seorang Lucifer”Marcus menatap yeoja disampingnya. Cahaya bulan yang menerpa wajah yeoja itu membuatnya jauh lebih mempesona.
“Apa benar Cho terkena racun Lucifer ?” tanya Dennis pada Marcus. namja itu tergagap dan kembali pada dunia nyata.
“N-ne. Park Keirai”
“Baiklah. Ambil saja. Setelah itu pergi dari Mateya, kembalilah ke Amasia. Kalian semua kembali ke pos jaga masing-masing” ujar Dennis. Ia memang Keirai yang bijaksana.
“Ku harap kau tidak membuat keonaran di Mateya” Dennis menatap tajam Marcus.
“Ne. Park Keirai. Gomapta, jeongmal Gomapta. Aku berhutang budi pada Anda Park Keirai” Marcus menunduk hormat. 2 bangsa ini memang saling bermusuhan, oleh karena itu Keirai memutuskan memisahkan Mateya dan Amasia.
“Alliciana, antarkan Marcus ke taman” Alliciana tersenyum lalu mengangguk.
“Ne Appa. Kajja Marcus-ssi”
            Alliciana berbalik begitu juga dengan Marcus. ia kembali menunduk hormat sebelum mengikuti Alliciana yang telah terbang 5 meter didepannya.
“Aku akan berusaha untuk tak mengungkitnya lagi, Violien” gumam Dennis setelah Alliciana dan Marcus menghilang dari hadapannya. Ini kali pertamanya bertemu dengan bangsa Elf biru setelah kematian Istrinya-Violien-. Ia dan putrinya dibunuh oleh seorang Elf biru menggunakan racun dari Lucifer.
___________________________________________________________________________
“Kau yakin akan mengantarku sampai hutan Aratis ?” Marcus menatap Alliciana yang terbang disampingnya. Tubuh mereka saat terbang mengeluarkan percikan cahaya seperti kembang api yang berwarna hijau-Alliciana- dan biru-Marcus- yang menyatu.
“Ne. wae ? aku hanya takut kau kenapa-napa ? bukannya apa-apa, kau adalah Chinzhou bangsa Elf biru, jika kau kenapa-napa bagaimana ? bukankah Cho Keirai sedang sakit ?” sebenarnya bukan itu alasan Alliciana. Ia merasa bahagia saat berada didekat Marcus.
“Tak apa. Aku membawa Loverdis. Cukup mengantarku sampai sini saja. Terima kasih telah percaya padaku dan memberikan daun Orodis. Terima kasih telah mengantarku. Dan sampaikan terima kasihku pada Park Keirai. Juga maaf karena kejadian dulu Appa-ku tidak bisa berbuat apa-apa” Marcus melepas genggaman tangannya pada Alliciana. Ya. Dari tadi mereka terbang dengan jari yang saling terkait. Bukankah itu sangat romantis ?
“Aku pergi. Kuharap kita bisa bertemu kembali Park Chinzhou” seru Marcus sebelum ia terbang jauh meninggalkan Alliciana. Marcus tersenyum manis kemudian cahaya biru membawanya terbang melewati gelapnya malam dengan sangat cepat.
“Semoga kita bisa bertemu kembali Cho Chizhou” ujar Alliciana lirih. Alliciana tersenyum kemudian berbalik terbang untuk kembali ke kastil.
___________________________________________________________________________
“Nifodis-aratus” Marcus mengarahkan Loverdisnya kearah yeoja asing yang bersembunyi diantara pohon pinus. Hutan Omifena memang menjadi tempat ia biasa latihan karena tempat ini sepi. Marcus mendekati yeoja yang telah ia ikat dengan mantranya tapi. Ia memang merasa ada yang mengikutinya saat ia berlatih.
“Kau ?” Marcus memetik melihat yeoja yang berada dihadapannya kini.
“Ne. ini aku. Wae ? bisakah kau melepaskannya” ujar yeoja berambut hitam legam sepinggang itu.
“N-ne. baiklah” Marcus tergagap melihat siapa yang berada dihadapannya. Namun ia mengarahkan Loverdisnya kearah yeoja itu.
“Aratus-masis” ikatan gaib itu terbuka. Alliciana langsung menghambur kearah Marcus. namun Marcus masih saja diam.
“Wae ? kau tak senang bertemu denganku ? bahkan aku sudah membelamu dihadapan Appa-ku” Alliciana melepaskan pelukkannya.
“Bukan begitu. Hanya saja kau bisa bahaya jika terlalu lama disini” Marcus menelisik kearah sekitar. Ia takut ada pengawal yang mengetahui Chinzhou dari bangsa Elf hijau disini.
“Appa mengundangmu dan Cho Keirai ke Mateya. Ia ingin membuka penghalang antara Mateya dan Amasia” ujar Alliciana dengan nada yang ketara sekali bahwa ia sangat bahagia.
“Bukankah tanpa membuka penghalang itu kita biasa keluar masuk Mateya-Amasia” cibir Marcus.
“Aish. Terserah,... aku pulang” Alliciana awalnya hanya merajuk saja. Ia ingin melihat ekspresi Marcus yang memohon padanya.
“Pulanglah. Jika perlu jangan kembali” ujar Marcus acuh. Alliciana hanya mendesus sebal. Setelah ia mengenal Marcus lebih jauh, ternyata namja itu sangat menyebalkan.
“Katakan pula pada Park Keirai, aku akan kesana dengan Appa untuk melamar Putrinya yang cengeng” teriak Marcus saat Alliciana berada cukup jauh darinya.
“Sudah jangan merajuk” tiba-tiba Marcus memeluk Alliciana dari belakang. Marcus membalikkan badan Alliciana menghadapnya.
“Seperti yang kau katakan. Kita akan menyatukan Mateya dan Amasia kembali. Sebentar lagi, kita tak perlu bertemu secara diam-diam seperti ini” Marcus mengelus pipi putih bak porselin Alliciana. Menatap mata kuning yeoja dalam dekapannya.
“Katakan pada Park Keirai, aku dan Appa akan datang besok” bisik Marcus ditelinga Alliciana lembut. Marcus mengelus rambut hitam Alliciana.
CUP
            Kecupan singkat dari Marcus dibibir Alliciana menjadi sihir bagi Alliciana. Yeoja itu masih membelangkkan matanya. Sementara Marcus tersenyum manis. CUP. Lagi. Marcus mengencupnya, namun kali ini cukup lama. Alliciana memejamkan kelopak matanya. Tangannya melingkar dileher putih pucat Marcus.
            Setelah cukup lama Marcus melepaskannya. Sebenarnya Alliciana masih ingin marasakan manisnya bibir Marcus. Marcus menatap Alliciana lembut. Ia mengelus bibir Alliciana yang terlihat merah karenanya.
“Nanti lagi. sekarang sebaiknya kau pulang” ujar Marcus lembut. Namja itu melepaskan pelukannya. Alliciana perlahan melayang, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.
“Aku menunggu janjimu Cho Chinzhou” ujar Alliciana memasang wajah dingin. Kemudian perlahan berbalik. Marcus hanya tersenyum melihat Alliciana yang kini hendak kembali ke Mateya.
“Chagiya, saranghae” teriak Marcus.
___________________________________________________________________________
END
Ket :
Makhluk bernama Elf dibagi menjadi 2 berdasarkan keturunan. Elf biru-bermata biru- dan Elf Hijau-bermata hijau-
Keirai = sebutan untuk raja bangsa elf
Chinzhou = sebutan untuk pangeran bangsa elf
Lembah Verques = lembah pembatas dimana penghalang antara Mateya dan Amasia dipisahkan. Hanya Keirai dan Chinzhou yang bisa menembusnya.
Hutan Aratis = wilayah bangsa Elf hijau yang paling dekat dengan lembah Verques
Orodis = pohon yang sangat langka. Pohon yang merupakan tanaman obat.
Lucifer = makhluk yang memburu Elf untuk diambil hatinya untuk dijadikan tumbal untuk upacara.
Mateya = tempat tinggal Elf hijau
Amasia = tempat tinggal Elf Biru.
Bye.... 
_____

No comments:

Post a Comment