Monday, July 1, 2013

I am not Meant for You - Leeteuk - Oneshoot - Special Birthday


1.        Title                      : I’m not meant for you
2.        Author                  : Komozaku Mitsuyuki/Fortunia Ryu
3.        Casts                    : Park Jungsoo, Hwang Jaein, Choi Minji ( Real name by : Min Soa Chocolat), Choi Siwon, and other casts find by your self
4.        Genre                   : School life, AU, Tragedy and other up to reader.
5.        Rated                   : PG 13
6.        Lenght                  : Oneshoot
7.        Disclaimer            : FF yang aku buat dihari Ulang tahunnya Uri Leader, dan special untuk uri Leader. Saengil Chukha Hamnida oppa. Makin ganteng, makin cerewet, makin baik hati, makin sukses, cepet keluar dari camp militer buat comeback bareng oppadeul. Amiiin. Cerita aneh. Typo(s) anywhere. No Plagiat because story is Mine!! Hahaha#ketawa bareng Kyuhyun.
Sedikit curhat, ini gara-gara mau tidur tapi ibu aku lihat sinetron trus diputer lagunya Rossa aku bukan untukmu dan jadilah ni FF. FF pertama terinspirasi gara-gara denger lagu Indo. Rossa Ahjumma gamsahamnida#Bow bareng Oppadeul eh ?
Story....
“Minji-ah. Ige- bukankah kau menyukai crisan putih ? dan coklat ini- semoga harimu menyenangkan”  Jungsoo berlalu dari hadapan Minji yang menatapnya datar. Yah- mereka bukan satu tingkatan, Jungsoo yang sudah kelas 3 senior high school sedangkan Minji baru kelas 2 junior high school. Minji memandang sesaat kearah tangga tak jauh dari tempatnya berdiri Jae In sunbarnya kelas 2 senior high school menatapnya dengan tatapan yang- sulit diartikan. Ia bingung kenapa sunbaenya selalu menatapnya seperti itu.
“Minji-ah!!” mendengar Sooeun memanggilnya ia langsung berlari mendekati temannya.
“Kenapa kau meninggalkanku sendiri ? Aish, kau mengerjaiku ?” Sooeun tertawa ringan membuat Minji memukul pundak temannya sebal.
“Seharusnya kau berterimakasih padaku, kau bisa berduaan dengan Jungsoo sunbaenim. Kau tahu, hampir seluruh siswi disini iri padamu karena Jungsoo sunbaenim begitu menyukaimu. Ah- hari ini kau dapat bunga crisan dan coklat, aigoo!! Aigoo!! Romantisnya, aku iri denganmu Minji. Hah- ia juga seorang traineer di SM dan sebenatar lagi akan debut. Aigoo- aigoo, jika aku jadi kau aku akan langsung menerimanya Minji-ah, kau bodoh sekali!” Minji hanya diam temannya berceloteh ria memuja-muja seorang Park Jungsoo, baginya ia tak tertarik dengan Jungsoo sunbaenim.
            4 yeoja dari pakaiannya adalah sunbae mereka senior high school berdiri dengan ekspresi seperti ingin menerkam mereka. Atau mungkin Minji ? JungYoeun. Yeoja paling tinggi dari mereka berempat maju satu langkah dengan tangan dilipat sedepan dada. Wajah cantik tapi angkuh dengan polesan make up terlalu menor menurutnya.
“Minji. Choi Minji. Geruraechi ?” Yoeun sedikit menunduk untuk membaca tag name di blazer biru tua minji.
“Nde, sunbaenim. Naya- Choi Minji. Waegeurae ?” terdengar sekali nada tegas dalam ucapannya membuat Yoeun tersenyum sinis merasa bocah dihadapannya menantangnya. Tangannya bersiap untuk mengayun untuk menampar Minji namun seseorang berhasil menahannya.
“N-neo ?!” Yoeun terbata melihat Jaein yang menahan tangannya.
“Sebaiknya kau tak menyentuhnya. Bukankah Jungsoo sudah memperingatkanmu, ia tak menyukaimu jadi jangan lampiaskan itu semua pada Minji.” Ujar Jaein tenang. Yoeun menyentakkan tangannya hingga tangannya terlepas dari genggaman Jaein.
“Hahaha... tak usah menafik nona Hwang. Aku tahu dan semua orang juga tahu kau juga menyukai Jungsoo oppa. Jadi berhentilah menjadi orang munafik. Bukankah dulu kau mengacuhkannya dan sekarang kau menginginkannya. Jika menginginkannya katakan saja. Dasar munafik!!” Jaein mulai tersulut emosinya. Tangannya mengepal menahan amarah.
“Nde, geurae. Aku memang menyukainya tapi aku tak pernah berharap padanya. Untukku melihatnya tersenyum itu sudah cukup untukku. Dan kau-” jari telunjuk Jaein yang lentik mengarah pada diri Yoeun. Tatapan mata Jaein begitu mengerikan, baru kali ini Jaein berekspresi seperti itu.
“Aku akan membuatmu menyesal jika kau sampai menyentuh Minji. Bahkan jika kau lari kemanapun aku akan tetap membuat perhitungan padamu” Jaein berbalik. Matanya tak sengaja melihat Jungsoo berdiri tak jauh dari mereka diantara siswa yang dari tadi menonton mereka.
“Oppa-” Jaein mendesis lirih hingga ia berjalan cepat kembali ke kelasnya. Gedung utara lantai 2.
***
“Jaein!! Hwang Jaein!!” Jaein menghentikan langkahnya saat seseorang berhasil menahan pergelangan tangannya. Perlahan Jaein berbalik. Ia langsung mengambur kedalam pelukan namja itu.
“Oppa, kenapa sesakit ini. Apa rasa sakit seperti ini juga yang dirasakan Jungsoo oppa saat aku mengacuhkannya dulu oppa ? Aku tak kuat, aku tak tahan. Hiks, hiks” Choi Siwon. Namja itu mengelus lembut rambut Jaein berharap dapat menenangkan sepupunya itu.
“Kenapa ia bisa bertahan denganku selama 3 tahun oppa ?? aku bodoh. Hiks, hiks. Nan jeongmal baboya yeoja. Hiks, hiks” Jaein terus sesegukan dalam pelukan Siwon. Siwon menyandarkan dagunya dipucuk kepala Jaein dan Jaein semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Siwon. Ia- butuh sandaran sekarang. Jaein melepaskan pelukannya setelah isakan itu tak keluar dari bibir tipisnya.
“Ikut oppa” Siwon menarik Jaein pergi dari lorong itu. Seseorang melihatnya tersenyum miris. Dalam hatinya ia kini ragu. Sejujurnya cintanya untuk Jaein belum pudar begitu saja namun dirinya sudah lelah untuk berharap pada Jaein. Minji, ia tak tahu bagaimana perasaan hoobaenya itu. Ia tak sanggup melihat Jaein, yeoja yang pertama kali membuatnya jatuh cinta begitu terpuruk. Hatinya juga ingin menjerit.
***
“Lalu bagaimana ?” Siwon memecahkan keheningan diantara mereka. Sedangkan Jaein menatap Kupu-kupu berwarna putih yang hinggap dikuntum bunga mawar putih yang belum mekar. Mereka duduk beralaskan rumput hijau dengan semillir angin yang membuat rambut ikal Jaein bergerak ringan mengikuti arah angin.
“Jaein-ah” Jaein menoleh menatap Siwon yang dari tadi menatapnya menunggu curahan dari yeoja yang sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri.
“Mianhae oppa. Aku membuatmu ikut khawtir. Aku sudah besar dan seharusnya aku bisa mengurus diriku sendiri. Gomawo- untuk bantuanmu selama ini oppa”
“Jaein-ah, ak-”
“Aku ingin disini sendiri oppa. Bisa oppa meninggalkanku sendiri. Aku ingin memikirkannya baik-baik. Oppa percaya padaku ani ? Sampaikan salamku pada Hyunri eonni dan maaf karena aku waktu oppa tak bisa menemani Hyunri eonni” Siwon mengangguk. Ia bangkit dan kembali ke asramanya. Kelas ? Ia sedang tak berminat melanjutkan pelajaran sekarang.
            Jaein kembali mengalihkan perhatiannya pada Kupu-kupu putih yang hinggap diatas bunga mawar putih. Bunga kesukaanya. Tangannya meraih kalung emas putih dengan bandul bunga mawar. Pemberian Jungsoo. Ia tersenyum dan mengusap-usap bandulnya. Kalung yang Jungsoo beli dengan hasil bekerja part timenya disebuah toko roti selama 3 bulan. Jungsoo selalu ingin membuatnya tersenyum dan saat ia menyadari bahwa ia mencintai Jungsoo, Jungsoo terlebih dahulu berpaling darinya.
            Tapi ini salahnya. Salahnya yang membuat Jungsoo menunggunya begitu lama. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bunga mawar putih yang selalu ada dilokernya saat pagi. Menunggunya di perpustakaan, membelikannya makanan saat kantin sedang penuh.
“Jungsoo, Park Jungsoo” air matanya turun. Ia memang terlihat dingin diluar namun dibalik itu- ia akan meneteskan air mata saat Jungsoo tersenyum untuk orang lain. Jaein menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana.
“Jaein” suara ini. Suara yang ia rindukan. Suara namja yang setiap pagi menyapanya dengan senyuman. Jaein mengangkat wajahnya ragu. Batinnya menjerit. Apakah ini ilusi ? Tangan hangat itu menghapus air mata disudut mata Jaein dan kedua pipinya.
“Jungsoo-”
“Kenapa kau begini ? Aku pikir setelah aku pergi kau akan tersenyum seperti dulu sebelum aku mengejarmu ? Seharusnya sekarang aku tersenyum bukan menangis seperti ini. Apa artinya aku meninggalkanmu jika yang kudapat hanya air matamu. Jaein-ah, jangan seperti ini. Kau membuatku bingung” Jaein menunduk ia tak berani membalas tatapan mata Jungsoo.
“Bukankah aku sudah berpesan untuk menjaga dirimu ? Kenapa kau tak melakukannya ? Bukankah kau sudah setuju aku akan pergi menjauh darimu asal kau menjaga dirimu baik-baik ? Apa aku harus kembali kesisimu ? Hah- kau pasti tak mau bukan aku kembali disampingmu. Jadi jangan seperti ini, jangan membuatku khawatir namun aku tak bisa membautmu nyaman” Jaein hanya terdiam mendengar setiap menuturan Jungsoo.
“Mian, mian Jungsoo oppa. Hiks-hiks, hiks” Jaein memeluk Jungsoo yang duduk besilah didepannya tiba-tiba. Pelukan itu membuat tubuh Jungsoo sedikit terguncang kebelakang. Debaran itu kembali ia rasakan, itu membuatnya semakin bingung. Hatinya memang benar. Jaein- gadis itu sekarang menerima kehadirannya.
***
“Sooeun-ah, sebenarnya ada apa tadi. Bukankah tadi itu Hwang Jaein sunbaenim dan Choi Yoeun sunbaenim ? Jaein Sunbaenim anak pemilik sekolah ini dan Yoeun Sunbaenim adalah sepupunya ani ?” tanya Minji pada Sooeun setengah bebisik agar tak didengar oleh Kim Seonsaengnim. Sooeun hanya mengangguk.
“Apa hubungan mereka dengan Jungsoo Sunbaenim ?”  Sooeun meletakkan pencilnya diatas meja. Ia menatap Minji dengan tatapan tajam.
“Kau mulai tertarik dengan Jungsoo sunbaenim ?” tak!! Minji mati kutu. Ia bingung, ia memang tersentuh dengan apa yang dilakukan Jungsoo selama ini untuknya, tapi maksud tertarik dengan Jungsoo sunbaenim disini adalah mencintainya atau sekedar penasaran dengannya ?
“Mollayeo” ujar Minji lirih.
“Sejak kelas 3 junior high school Jungsoo sunbaenim menyukai Jaein Sunbaenim namun Jaein sunbaenim itu dulu sangat angkuh, apalagi dulu Jungsoo sunbaenim masuk dengan beasiswa dan berasal dari golongan bawah. Sedangkan Yoeun sunbaenim tertarik pada Jungsoo sunbaenim sejak kelas 1 senior high school karena Yoeun sunbaenim itu siswa pindahan” Minji mengangguk-angguk dan menyenggol tangan Sooeun untuk melanjutkan ceritanya.
“Lalu ? Kenapa hubungan mereka seperti tidak saling mengenal seperti itu. Jaein sunbaenim, ia selalu menatapku dengan tatapan yang- campuk aduk. Seperti benci, tapi tidak, marah, juga tidak, simpati- atau entahlah tapi-”  JDOKKK.
“Nona Choi, Nona Jung. Silahkan keluar dari kelas saya” Kim Seonsaengnim menatap tajam mereka yang kini hanya dapat menunduk.
***
            Jaein keluar dari mobil Hyundai NF Sonata hitam kesayangan Oppanya. Selama oppanya di Shanghai, mobil itu bebas dipakai olehnya. Balutan gaun putih 5 cm diatas lutut dengan rambut ikal yang gerai membuatnya begitu menawan syal putih pemberian Jungsoo menghangatkan lehernya dari udara dingin. Matanya menatap rumah dengan cat hijau yang berada dibalik pagar kayu dengan cat putih. Rumah yang begitu nyaman pikirnya.
            Jaein melangkah membuka pagar kayu sebatas pinggang dan mengamati halaman hijau rumah tersebut. Tangannya terangkat untuk memencet bel rumah namun ia urungkan dan memilih bersembunyi dibalik tiang yang cukup besar. Matanya sedikit memanas dan berair. Minji turun dari sepeda Jungsoo. Jungsoo mengacak rambut Minji sebelum mengecup kening yeoja itu. Jaein menghapus air matanya saat Minji berjalan mendekat.
“Su-su-Sunbaenim” Minji tergagap. Jaein tersenyum lembut lalu menarik tangan Minji mengikutinya. Ia was-was. ‘Jaein sunbaenim mencintai Jungsoo sunbaenim’ itulah sepenggal kalimat Sooeun yang terinang dikepalanya sekarang.
***
            Minji meremas ujung lengan blazer yang dipakainya membuat Jaein terkikik dalam diam sambil meminum jus jambu dengan santai. Raut wajah Minji yang ditekuk, hey! Apakah aku begitu menakutkan dimatanya ? Jaein berdehem untuk menarik perhatian Minji untuk menatapnya.
“Minji. Choi Minji, apakah aku mencintai Jungsoo oppa ?” Minji tak menjawab. Bernafas saja itu sulit baginya. ‘Jaein sunbaenim itu dulu hanya mementingkan dirinya sendiri. Tapi katanya sekarang sudah berubah. Katanya. Mollayeo, sudah diam aku tak mau disuruh Kim tua itu mengerjakan soal lagi’ Choi Minji!! Ayolah-
            Jaein terlihat gak sadar menunggu jawaban dari Minji ia mengetuk-ketukkan kuku jari telunjuknya diatas meja. Sesekali melihat jam putih pemberian Jungsoo saat ulang tahunnya ke-15.
“Choi Minji, aku tak punya banyak waktu. Marhaebwa!!” nada bicara Jaein terdengar halus sedikit membuat rasa takutnya menghilang.
“Kudengar tadi sunbae tidak berangkat, apa sunbae sakit ?” Jaein mendecak kesal mendapat respon yang tak sesuai dengan harapan.
“Yak!! Aku tak punya banyak waktu bocah, tinggal jawab apa susah ya. Oh, kau takut padaku. Tenang saja ini mungkin terakhir kalinya kau bertemu denganku” Minji melongo. ‘Jaein Sunbaenim termasuk orang yang nekat’ ucapan Sooeun kembali terinang.
“Apa sunbae berniat bunuh diri karena sakit hati ? Aigoo sunbae- kalau begitu biar aku saja yang mengalah. Aku tak apa Jungsoo op- sunbae bersama sunbaenim. Lagipula kalian cocok, sangat serasi” ucapan Minji melirih dikata cocok dan serasi diakhiri senyum kecut. Itu artinya keputusan Jaein mungkin sudah tepat. Senyum cerah mengembang dibibir Jaein, melihat itu Minji kembali tersenyum kecut. Baru 2 hari. Akankah ? Tapi Jaein Sunbae sangat cantik, manis dan serba berkecukupan. Memang ia yang pantas untuk Jungsoo op-pa. Jaein mengeluarkan sejumlah uang yang diletakkan diatas meja.
“Minji-ah, aku pinjam namjachingu untuk satu hari ini. Pulanglah dengan taksi maaf tak mengantarmu pulang” Jaein berjalan bahkan hampir seperti berlari keluar dari cafe.  Sementara Minji membuang nafasnya kasar.
“Mulut bodoh”
***
“Jaein” Jaein tersenyum dan menarik tangan Jungsoo untuk duduk diteras rumah. Hati Jungsoo sebenarnya gelisah karena tak melihat Jaein selama 4 hari ini. Bolos!! Karena diam-diam Jungsoo masih memperhatikan Jaein dari jauh.
“Mulai sekarang belajarnya menutup mata hatimu untuk yeoja lain selain Minji. Ia tulus mencintaimu tapi ia terlalu polos, oppa- berhentilah memperhatikanku dalam diam.. aku- akan baik-baik saja. Dan- maaf. Karena selama ini aku- pasti menyakitimu” Jungsoo tersenyum kecil.
“Aku tak bisa berjanji padamu. Aku hanya akan mencobanya” Jungsoo memerhatikan syal putih yang melilit leher putih salju Jaein. Pas. Tak ada penyesalan baginya telah meluangkan waktunya untuk mencari uang tambahan.
“Aku akan membantumu oppa-” Jaein mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah jam tangan berwarna hitam, ponsel, dan- gelang dari platina. Barang pertama yang diambil Jaein adalah jam tangan. Ia memasangkannya dilengan kiri Jungsoo, mengambil ponsel dan menaruhnya digenggaman tangan kanan Jungsoo, terakhir gelang dari platina di lengan kanan Jungsoo.
“Untuk apa ? Maaf ? Tidak usah seperti Jaein-ah” tangan Jaein menahan tangan kiri Jungsoo yang berusaha melepas gelang dari platina itu. Karena jelas gelang itu paling mahal. Walaupun sama-sama dari platina seperti kalung yang pernah ia berikan untuk Jaein dulu- tapi harganya pasti jauh berbeda.
“Jika kau mengembalikannya maka aku akan mengembalikan semua yang pernah kau berikan untukku” Jungsoo mengalah.
“Oppa- aku akan menuruti permintaanmu tapi kau harus janji- jangan pernah kembali menatapku karena itu hanya akan membuatmu sakit” Jaein menarik tangan Jungsoo untuk berdiri dan memeluknya.
***
            Hari itu hari terakhirku melihatnya. 12/04/2000. Gelang itu berukirkan tulisan yunani. Seperti do’aku untukmu karena aku tak dapat berada disampingmu. Semoga kau bahagia, semoga kau selalu sehat dan teruslah tersenyum seperti senyummu untuk menyambutku setiap pagi.
            Kini- bahkan setiap hari aku dapat melihatmu. Aku tak menyesal melepasmu karena hatimu bukan untukku sepenuhnya. Juga dirinya yang secara perlahan menghapus namaku dihatimu. Hanya saja kau terlalu terpaku padaku. Sifatmu yang tak ingin orang lain disekitarmu menangis membuatmu lemah. Jungsoo- tapi sekarang jika ia menangis ada jutaan orang yang akan menghapus air matanya.
‘Setelah keluar dari wajib militer tepat dihari kelahirannya. Leader yang didaulat The Best Leader ini mengaku ada seseorang yang mengajarinya untuk jangan terpaku pada masa lalu. “Kadang kita tidak boleh terlalu iba dengan seseorang karena itu kita akan salah menafsirkan apa yang sebenarnya hati kita rasakan” perkataan ambigu leader yang terkenal dengan kepeduliannya’
            Apakah itu berarti ia masih mengingatku ? Setelah14 tahun berlalu ? Terima kasih karena sudah mau mengenangku. Yah, mengenangku dalam ingatan masa lalunya.
***
END

No comments:

Post a Comment